Ini alasan pemerintah untuk impor hasil pertanian

SINGKAWANG, Kalbar: Terbatasnya volume produksi hasil pertanian atau perkebunan menjadi alasan utama dilakukannya impor terhadap barang itu.Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan kebijakan ekspor dan impor berdasarkan ketersediaan serta
Febriany Dian Aritya Putri
Febriany Dian Aritya Putri - Bisnis.com 07 Desember 2011  |  09:30 WIB

SINGKAWANG, Kalbar: Terbatasnya volume produksi hasil pertanian atau perkebunan menjadi alasan utama dilakukannya impor terhadap barang itu.Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan kebijakan ekspor dan impor berdasarkan ketersediaan serta kebutuhan di dalam negeri.“Contohnya, kebutuhan gula 5 juta ton sementara produksi dalam negeri 2,3 juta ton. Itu kan harus impor gula. Apakah tukang roti atau pembuat sirup tidak boleh berusaha jika kekurangan gula? Begitu juga dengan beras, dimana produksi kita hanya 1,6 juta ton tahun ini,” papar Bayu.Dia mengatakan itu usai melantik ketua dan anggota Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen di Singkawang, kemarin malam.Adapun pada tahun ini kuota impor beras yang diberikan ke Bulog oleh pemerintah adalah sebesar 1,9 juta ton dimana berasal dari Vietnam, India, dan Thailand.Sementara itu, Bulog juga sudah melakukan operasi pasar sebanyak 307.000 ton beras, volume tertinggi sejak empat tahun terakhir, karena produksi dalam negeri yang berkurang.Tahun lalu, operasi pasar dilakukan dengan 44.000 ton beras, lalu 2009 tidak sampai 1 ton, dan 2008 dengan 20.000 ton.Wamendag mengatakan pemerintah juga melakukan perhitungan yang berhati-hati terkait dengan kebijakan ekspor dan impor produk primer. Dia menuturkan barang yang diimpor berbeda dengan ekspor.“Misalnya, Indonesia impor susu dan ekspor rempah. Itu kan berbeda. Ya kita kan berdagang, menjual dan membeli. Melakukan penjualan bagi [negara] yang punya barang lebih,” jelasnya. (faa) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top