Toba Sejahtera tunggu kebijakan soal Inalum

JAKARTA: PT Toba Sejahtra hingga kini masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat terkait pengalihan saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dari konsorsium Jepang ke perusahaan nasional.Komisaris dan pendiri Toba Sejahtra Luhut Binsar Pandjaitan
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 06 Desember 2011  |  19:18 WIB

JAKARTA: PT Toba Sejahtra hingga kini masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat terkait pengalihan saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dari konsorsium Jepang ke perusahaan nasional.Komisaris dan pendiri Toba Sejahtra Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan jika diperlukan, pihaknya siap mengikuti proses tender terkait pengalihan saham itu.“Saya sudah bertemu Menkeu dan Presiden waktu itu. Tidak apa-apa ditender sepanjang kami mendapat right to match karena kami bersama perusda [perusahaan daerah]. Saya usulkan ini biar perusda juga bisa menikmati,” ujarnya dalam konferensi pers, hari ini.Luhut kembali menegaskan pihaknya siap membeli 58,8% saham Inalum dari konsorsium Jepang. Pihaknya sudah menyiapkan dana sebesar US$700 juta untuk keperluan akuisisi ini. Sebesar US$600 juta dari BNP Paribas dan Deutsche Bank dan US$100 juta sisanya dari dana internal.Toba Sejahtra diketahui juga telah mengadakan MoU dengan 9 kabupaten yang bersinggungan langsung dengan Danau Toba serta satu walikota. Jika pemerintah pusat mengalihkan saham tersebut ke konsorsium Toba Sejahtra dengan perusda setempat, Luhut mengatakan maka Pendapatan Asli Daerah (PAD) bisa meningkat dari saat ini Rp5 miliar per tahun menjadi Rp30 miliar per tahun.“Pada prinsipnya kami yang paling duluan kerja sama dengan daerah. Kami sudah ajukan proposal sejak tiga tahun yang lalu. Kalau di Newmont bisa, kenapa Inalum tidak bisa? Kami ingin fair, coba Sumut diperlakukan adil,” ujar Luhut.  Meski Toba Sejahtera berkeinginan mengakuisisi Inalum, namun sebelumnya Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sudah menyatakan dana untuk membeli saham Inalum sudah dianggarkan dalam APBN 2012 sebesar Rp2 triliun.Kepala PIP Soritaon Siregar mengatakan mekanisme pembelian saham Inalum tersebut sama halnya seperti pembelian 7% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), yakni berupa investasi jangka panjang non-permanen dan bukan dalam bentuk penyertaan modal negara sehingga tidak memerlukan izin DPR.“Dalam APBN 2012 sudah dialokasikan Rp2 triliun, dedicated untuk Inalum. Nanti di 2013 dananya akan ditambah lagi,” ujar Soritaon.Meski demikian, pemerintah hingga saat ini belum menetapkan secara pasti siapa calon pembeli saham Inalum. Soritaon mengatakan PIP belum secara resmi ditunjuk oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian, untuk membeli saham Inalum tersebut.(api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top