Tahun depan Bulog beli 4 juta ton beras

MALANG: Perum Bulog berencana membeli beras 3,5-4 juta ton pada tahun depan, baik berasal dari dalam negeri maupun dari impor."Pemerintah menargetkan pada 2012 produksi padi naik 13%. Jika hal itu terjadi, maka penyediaan beras Bulog tidak perlu
News Editor
News Editor - Bisnis.com 02 Desember 2011  |  17:34 WIB

MALANG: Perum Bulog berencana membeli beras 3,5-4 juta ton pada tahun depan, baik berasal dari dalam negeri maupun dari impor."Pemerintah menargetkan pada 2012 produksi padi naik 13%. Jika hal itu terjadi, maka penyediaan beras Bulog tidak perlu lagi harus impor," kata Dirut Bulog Sutarto Alimoeso di sela-sela kuliah umum di Universitas Brawijaya Malang, hari iniDia mengatakan untuk pengadaan beras dalam negeri tahun ini, sampai saat ini sudah mencapai 1,7 juta ton. Sedangkan stok beras Bulog secara nasional mencapai 2 juta ton, termasuk dari beras impor.Untuk penyaluran beras rutin, apabila stok masih 1,2 juta maka mencukupi untuk 4,11 bulan ke depan. Dengan stok 2 juta ton, maka cukup untuk lebih dari 5 bulan ke depan.Namun, Bulog masih mengusahakan pengadaan dalam negeri sampai akhir tahun dengan mengoptimalkan sisa panen gadu. Stok akan diperkuat dengan tambahan dari impor yang masuk sejak Agustus.Realisasi tambahan beras impor saat ini sudah 1 juta ton, sedangkan yang masih dalam proses sebanyak 900.000 ton. Beras sebanyak itu paling lambat akan dipenuhi pada Februari 2012.Dengan data-data, kata dia, maka maka stok beras Bulog sangat aman. Cukup untuk memenuhi kebutuhan penyaluran beras rutin dalam waktu lama.Dia menegaskan, pengadaan beras dari dalam negeri merupakan prioritas untuk mencukupi stok dalam negeri. Pemerintah telah menetapkan Inpres No. 7/2009 tentang perbesaran termasuk harga pembelian pemerintah (HPP).Pemerintah juga telah mengeluarkan Inpres 8/2011 tentang Kebijakan Fleksibilitas untuk menghadapi iklim ekstrim.Bulog sendiri telah melakukan pembelian dengan HPP dan tambahan sampai lima kali, tetapi realisasinya masih rendah.Setiap tambahan harga mendorong harga di pasar segera ikut naik karena masalah pasokan yang kurang.Pemerintah perlu stok beras yang cukup untuk penyaluran raskin dan stabilisasi paceklik. Impor bersifat residual yang tidak dapat dihindari untuk pemukan stok.Terkait dengan fleksibilitas pembelian harga beras, menurutnya, harga pembelian gabah kering giling Rp4.300 per kg sudah tinggi. Jika dikonversikan ke beras, maka bisa mencapai Rp6.500-Rp6.800 per kg, tergantung rendemennya.Apabila diasumsikan bahwa gabah di petani, maka secara logika Bulog dapat menyerapnya. Namu faktanya sulit menyerapnya sehingga kesimpulan gabah di petani memang sudah tidak ada.Hal itu sesuai dengan perkiraan produksi gabah 2011 yang mencapai 65.385.183 ton atau minus -1,63%. Di sisi lain, angka pertumbuhan penduduk justru mencapai 1,5% per tahun.Indikasi produksi mengalami minus dilihat dari terjadinya operasi pasar (OP) beras. OP beras dilakukan saat harga beras tinggi yang dipicu pasokan yang kurang,OP beras 2011 dilaksanakan di Aceh Sumut,Riau, Sumbar, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, DKI, Jabar, DIY, Jatim, Kalbar, Kaltim, Kalsel, Kalteng, Sulut, Sulteng, NTB, NTT, Maluku, dan Papua."Total beras yang digelontorkan OP mencapai 306.841 ton. Sedangkan pada 2009, saat produksi padi surplus justru tidak kegiatan OP beras."(K24/Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Choirul Anam

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top