Pengetatan likuiditas antisipasi imbas krisis global

 
- Bisnis.com 02 Desember 2011  |  15:48 WIB

 

JAKARTA: Pemerintah berharap langkah bank sentral memperketat likuiditas valuta asing dan membatasi kredit perbankan mampu mengamankan sektor keuangan dari imbas negatif krisis global.
 
Manteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo menuturkan bahaya pelarian modal (capital out flow) sangat mungkin terjadi di setiap negara, terlebih di tengah kondisi dunia yang tidak menentu seperti saat ini. 
 
Untuk itu, pemerintah dan bank sentral telah mengantisipasi risiko tersebut melanda Tanah Air melalui sejumlah kebijakan, a.l. dengan memperketat likuiditas valas dan penyaluran kredit.
 
“Kami juga mempersiapkan diri kalau-kalau terjadi penarikan likuiditas, kalau tiba-tiba pasar likuiditas mengering. Tentu saja persiapan-persiapan itu dilakukan, khususnya pemerintah bekerja sama dengan BI. Kami sudah mendengar dalam koordinasi dengan BI, ada sejumlah pengetatan valas, tetapi secara umum (kondisi saat ini) masih baik dan masih terkendali,” jelas dai di kantornya, hari ini.
 
Menurutnya, pengetatan likuiditas valas sejalan dengan prinsip kehati-hatian perbankan yang sudah ditekankan BI kepada bank-bank binaannya sejak 2000. 
 
Menkeu juga menyambut baik instruksi BI agar perbankan tidak memaksakan penyaluran kredit ketika kapasitas anggarannya terbatas.
 
“Mereka (perbankan) pun tidak diperkenankan (BI) untuk berlebihan mengandalkan (transaksi) interbank untuk menyalurkan kreditnya. Sehingga pengalaman yang lalu bahwa karena interbank menjadi ketat dan akhirnya bank itu menjadi kesuitan likuditas, itu bisa kita hindari. Kalau seandainya memang likuiditas itu ketat, tentu ekspansi kredit harus lebih fokus dan dibatasi,” tegas Agus. (arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top