Konferensi sawit diwarnai aksi anti-pembantaian orangutan

 
Matroji
Matroji - Bisnis.com 01 Desember 2011  |  15:42 WIB

 

 

NUSA DUA: Sejumlah aktivis mengecam keras penyimpangan yang dilakukan perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan mengadakan aksi di depan lokasi penyelenggaraan Konferensi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia di Bali International Convention Center, Nusa Dua hari ini.  
 
Aksi ini dimotori oleh lembaga non pemerintah (NGO) Animal Friends Jogja dan Jakarta Animal Aid Network dan melibatkan seluruh masyarakat peduli satwa di Indonesia. 
 
Mereka mengecam keras kegiatan penyimpangan yang dilakukan perusahaan sawit hingga mengakibatkan satwa liar, terutama Orangutan.
 
Awang, aktivis Jakarta Animal Aid Network mengatakan saat ini populasi satwa langka Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) diperkirakan kurang dari 50.000 ekor. Data itu mengacu IUCN Red List of Threatened Species.
 
Sementara itu, saudara sepupu Orangutan Kalimantan, yaitu orangutan sumatra (Pongo Abelii), diperkirakan populasinya hanya sekitar 7.300 ekor. “Perusahaan itu menganggap orangutan sebagai hama dan harus dibasmi dari perkebunan sawit.”
 
Awang menjelaskan dalam investigasi di belantara sawit Kalimantan, banyak pemburu ditempatkan di sejumlah titik terluar perkebunan sawit. "Pemburu itu dipekerjakan pada saat pembukaan lahan hingga kelangsungan eksplorasi sawit," katanya keada Bisnis, hari ini. 
 
Selain itu, lanjutnya, banyak bukti penyimpangan demi kepentingan perusahaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Seperti halnya, penggundulan di luar batas Hak Guna Usaha, pembukaan lahan tanpa izin, pemalsuan AMDAL, pemiskinan terhadap masyarakat lokal yang melebar menjadi konflik serta penyuapan terhadap pegawai pemerintah demi kelancaran membuka usaha
 
Padahal, lanjut Benvika, koordinator aksi dari Animal Friends Jogja mengatakan orangutan dilindungi oleh Undang-undang Republik Indonesia No 5/1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Saat ini, Indonesia memiliki rapor buruk tentang banyaknya satwa dan tanaman/tumbuhan yang diprediksi akan punah.” (arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top