BI: Bank sentral jadi korban stabilitas ekonomi

JAKARTA: Bank sentral justru menjadi korban keberhasilan dalam menciptakan stabilitas makro ekonomi. Pasalnya dalam kondisi stabil pelaku usaha justru mengeruk keuntungan dan mengambil risiko lebih besar, sehingga menimbulkan ketidak hati-hatian yang
Saeno
Saeno - Bisnis.com 01 Desember 2011  |  17:11 WIB

JAKARTA: Bank sentral justru menjadi korban keberhasilan dalam menciptakan stabilitas makro ekonomi. Pasalnya dalam kondisi stabil pelaku usaha justru mengeruk keuntungan dan mengambil risiko lebih besar, sehingga menimbulkan ketidak hati-hatian yang memicu krisis ekonomi.Hal tersebut diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution saat membuka acara seminar kerjasama Bank Indonesia dengan World Bank dengan tema Dealing with the Challenges of Macro Financial Lingkages in Emerging Markets di Bali, pagi ini.Dia mengutarakan keberhasilan bank sentral dalam menjinakkan inflasi dan menjaganya agar tak bergejolak justru menciptakan ketidakseimbangan keuangan global yang bersembuyi dari balik inflasi rendah dan stabil.Menurutnya, dengan inflasi yang terjaga memicu optimisme yang lebih besar dari pelaku usaha ekonomi dan mengarah kepada kondisi yang lebih besar pro siklus. Investor dalam pencarian sektor keuangan untuk hasil dan banyak menjadi pengambil risiko berlebihan.“Kita, sebagai bank sentral juga menjadi korban dari kesuksesan kami. Yang benar adalah pahit. Inflasi stabil justru investor dalam sektor keuangan justru mencari hasil lebih banyak dan risiko berlebihan,” ujarnya.Secara mikro, dia menerangkan pemberian kompensasi tinggi terhadap eksekutif lembaga keuangan justru memicu perilaku pengambilan risiko yang berlebihan sehingga mengarah ke dalam kondisi krisis.Selain itu, lanjutnya, parameter peraturan kehati-hatian sangat terbatas. Misalnya, eksposure atau pemberian fasilitas kredit kepada lembaga keuangan nonbank (shadow bangking) juga bisa memicu krisis keuangan.“Pasalnya lembaga ini bukan subyek dengan persyaratan kehati-hatian yang sama relatif terhadap eksposur mereka. Mereka juga sangat berpengaruh besar, dalam meraih keuntungan selama booming permintaan dan memperkuat kerugian selama masa kemunduran,” terangnya.(Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top