Indonesia jadi net eksportir tembakau?

 
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 29 September 2011  |  17:55 WIB

 

JAKARTA: Indonesia lebih banyak impor tembakau untuk produksi rokok sehingga regulasi soal tembakau tidak akan membuat petani tembakau menderita.
 
Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Farid Afansa Moeloek mengatakan luas lahan tembakau terus turun dari 240.000 hektare menjadi 200.000 ha pada 1990-2007. Padahal, produksi rokok terus meningkat  hingga 7 kali lipat dari 35 miliar batang menjadi 230 miliar batang pada 2008.
 
"Kita [Indonesia] adalah net importir tembakau. Luas lahan tembakau berkurang, tetapi produksi rokok terus meningkat. Data BPS juga mencatat defisit perdagangan tembakau," ujarnya saat Konferensi Pers Tembakau, hari ini.
 
Moeloek menuturkan pihak yang merasa terancam dengan kebijakan pembatasan tembakau adalah importir daun tembakau bukan petani.
 
Dia mengkritisi tata niaga tembakau yang berlaku saat ini membuat petani semakin tertindas. "Pada saat mengetes kualitas tembakau, tidak ada pengaturan kualitas oleh negara."
 
Ekspor rokok ke Amerika Serikat, kata dia, juga turun dari US$604,2 juta pada 2007 menjadi US$83,62 juta pada 2009. Ekspor tembakau tumbuh 6,82%, tetapi impor bertumbuh 7,64%. Produksi tembakau Indonesia pada posisi kelima di dunia, sedangkan posisi pertama adalah China.
 
Menurut Moeloek, dampak rokok terhadap kesehatan telah menyebabkan tanggungan biaya kesehatan atau total economic loss Rp245 triliun, sedangkan penerimaan cukai rokok hanya Rp60 triliun.
 
Menurut dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan dukungan terhadap pengendalian tembakau. "Bapak Presiden menyatakan keprihatinan dan sangat memahami masalah rokok di Indonesia." (arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top