PLN dapat jaminan pasok gas 100 miliar BBtud

 
Samantha Ardiansyah
Samantha Ardiansyah - Bisnis.com 22 September 2011  |  20:42 WIB

 

JAKARTA: Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi menjanjikan tambahan pasokan gas sebesar 100 miliar British thermal unit (BBtud) untuk PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), yang berasal dari pengurangan ekspor ke Singapura.
 
Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana mengungkapkan proses renegosiasi ekspor gas dengan pembeli di Singapura sudah mencapai kesepakatan, untuk selanjutnya dimintakan persetujuan pemerintah.
 
Menurut dia, renegosiasi ekspor gas ke Singapura yang dilakukan secara business to business (b to b) itu hanya merubah sebagian kecil ketentuan administrasi yang tertuang dalam kontrak. Sesuai dengan permintaan PLN, jelasnya, pasokan gas itu akan dikembalikan kepada PLN untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik yang selama ini mengalami kekurangan.
 
"Renegosiasi ini hanya masalah swap dan sudah berhasil diselesaikan. Tinggal kita mohon approval pemerintah apakah bisa dijalankan atau tidak. Kita pastikan gas kembali ke PLN," ujarnya hari ini.
 
Dia mengharapkan keputusan peruntukan gas dari proses renegosiasi ekspor gas ke Singapura bisa dipublikasikan ke masyarakat pada akhir September, sehingga awal Oktober sudah berlaku.
 
"Kita tidak bisa mengungkapkan terlebih dahulu [kesepakatan renegosiasi], tetapi PLN sudah masuk di dalamnya. Akhir September lah baru bisa diketahui public dan awal Oktober sudah berlaku," terang Gde.
 
Sebelumnya, Menko Perekonomian sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ad interim Hatta Rajasa mengemukakan pemerintah tengah mengkaji pengurangan volume ekspor gas bumi ke Singapura, guna meminimalisir kekurangan pasokan gas di dalam negeri.
 
Selama ini, jelasnya, volume ekspor gas ke Singapura sudah terlalu besar, padahal kebutuhan di dalam negeri masih mengalami kekurangan.
 
"Tidak akan saya ijinkan tambahan gas [ekspor] ke Singapura. Hari ini pun ketika gas akan diekspor ke Singapura, saya katakan stop. Republik butuh gas sendiri," ujarnya. (sut)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top