Investor China bangun pengolahan nikel di Sultra US$6 miliar

JAKARTA: Jillin Horoc Non-Ferous Metal Group Co.Ltd, investor asal China, resmi masuk menggarap kawasan industri peleburan nikel di Kabupaten Bombana dan Kab. Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan nilai sekitar US$6 miliar.Investor China itu pada Senin
News Editor
News Editor - Bisnis.com 20 September 2011  |  15:03 WIB

JAKARTA: Jillin Horoc Non-Ferous Metal Group Co.Ltd, investor asal China, resmi masuk menggarap kawasan industri peleburan nikel di Kabupaten Bombana dan Kab. Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan nilai sekitar US$6 miliar.Investor China itu pada Senin menandatangani perjanjian kerja sama proyek tersebut dengan Pemprov Sulawesi Tenggara diwakili oleh Gubernur Nur Alam, dan PT Billy Indonesia di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian.“Penandatanganan perjanjian ini akan berimplikasi pada banyaknya sumber daya manusia yang digunakan. Dengan penanaman investasi sebesar US$6 miliar, pemprosesan material [nikel] akan dapat dilakukan di sini, tidak lagi di luar negeri,” ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa yang turut menyaksikan penandatangan tersebut, seperti ditulis siaran pers Pemprov Sultra.Selain Nur Alam, pihak yang menandatangani kerja sama tersebut adalah Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman, Bupati Bombana Tafdil (sebagai pihak pertama) dan Direktur Jillin Horoc Non-Ferous Metal Group Co. Ltd Wang Xingrui dan Direktur Perusahaan PT Billy Indonesia Suharto Martosuroyo (pihak ke dua).Turut hadir pula oleh Gita Wirjawan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Presiden Komisaris PT Billy Indonesia Emi Sukiati lasimon, dan CEO Jillin Horoc Non-Ferous Metal Group Co. Ltd Wu Shu.“Dengan kerja sama ini diharapkan Sulawesi Tenggara akan dapat lebih mensejahterakan masyarakatnya, terutama Kabupaten Konawe Utara dan Bombana, bayangkan betapa besar skala industri ini dengan penanaman modal sebesar ini,” ujar Nur Alam.Menurut Suharto, kawasan indsustri yang dibangun ini akan memiliki kapasitas produksi 100.000 metrix ton logam nikel per tahun dengan total investasi sebesar US$6 miliar.Sebelumnya Jillin Horoc dan PT Billy sudah melakukan kerja sama, dan dalam perjanjian ini mereka akan mendirikan perusahaan bersama untuk membangun kawasan industri nikel.“Pembangunan industri pengolahan nikel ini merupakan bagian dari Program Percepatan Pembangunan Daerah Sultra sebagai Pusat Industri Pertambangan Nasional untuk nikel, emas dan aspal”,  lanjut Nur Alam.Menurut dia, selama ini rakyat rakyat Sultra hanya bisa menjadi penonton saja ketika semua bahan mentahnya diangkut ke luar negeri tanpa ada peningkatan nilai tambah.“Industri pengolahan nikel ini akan meningkatkan nilai tambah 10 kali lipat dibandingkan bahan mentah saja. Belum lagi pembangunan sarana dan prasarana yang akan dibangun oleh investor seperti jalan, jembatan, pelabuhan, rumah sakit, dan infrastruktur pendukung lainnya  akan turut dinikmati rakyat Sultra,” ungkap Gubernur Sultra itu.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Sutan Eries Adlin

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top