Bintang Delapan rangkul Tsingshan garap tambang nikel Rp35, 6triliun

 
Hasan Zein Mahmud
Hasan Zein Mahmud - Bisnis.com 19 September 2011  |  16:54 WIB

 

JAKARTA: Tsingshan Steel, anak perusahaan Dingxin Investment Group, yang bekerja sama dengan Bintang Delapan Group, memutuskan untuk berinvestasi untuk proyek nikel teritegrasi dengan nilai sekitar US$4 miliar (sekitar Rp35,6 triliun) di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
 
Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan Tsingshan pada ingin membuat smelter nikel dari hulu ke hilir dengan produk akhir stainless steel, yang saat ini masih bergantung pada impor. Hidayat mengatakan pada tahap awal Tsingshan akan membangun smelter nikel.
 
"Mereka ingin membuat smelter dari hulu ke hilir dan pada tahap awal akan membangun smelternya untuk nikel. Beberapa produk akhir yang ingin dihasilkan seperti stainless steel yang kita masih sangat bergantung pada impor," katanya hari ini.
 
Hidayat mengatakan langkah Tsingshan tersebut merupakan bagian dari penyikapan investor terhadap kebijakan pemerintah yang tidak memperbolehkan kegiatan ekspor bahan mentah pada 2014. Kebijakan tersebut sebagaimana tertuang dalam Undang-undang No.4/2009 tentang Mineral dan Batu bara.
 
Menperin menyebutkan pada tahap awal Tsingshan akan berinvestasi senilai US$1 miliar (sekitar Rp8,9 triliun). Total investasi yang akan digulirkan apabila seluruh investasi direalisasikan akan mencapai US$4 miliar.
 
"Mereka meminta agar pemerintah membantu menyikapi rencana investasi itu. Kami sampaikan kepada Tsingshan, penyikapan pemerintah akan diberikan setelah memenuhi syarat, seperti mitra lokal yang memiliki konsesi, dan kami akan minta Ditjen Basis Industri Manufaktur untuk mempelajari [rencana investasi tersebut]," paparnya.
 
Apabila seluruh syarat dipenuhi, katanya, pemerintah menjanjikan untuk memberikan penyikapan fiskal segera, seperti tax holiday ataupun revisi PP No.62/2010. "Kalau betul mereka investasi sebesar itu, tax holiday bisa diberikan. Yang sudah pasti, PP No.62/2010 sudah bisa."
 
Berdasarkan catatan Bisnis, Bintang Delapan menguasai sekitar 20 Kuasa Pertambangan di dua kabupaten, yaitu Morowali, Sulawesi Tengah dan Konawe, Sulawesi Tenggara. Grup tersebut telah bekerja sama dengan Dingxin, perusahaan asal China yang merupakan induk usaha dari Tsingshan. 
 
Namun, kerja sama tersebut sempat terganjal masalah lantaran bersengketa dengan Rio Tinto, investor asal Australia yang berencana menggarap proyek nikel dengan investasi US$2 miliar di lokasi yang sama dengan nama proyek Lasamphala. Rio Tinto mengklaim KP yang diberikan oleh kedua Pemda kepada Bintang Delapan merupakan lokasi Kontrak Karya perusahaan yang sudah dibahas sejak 2000.
 
Di tengah alotnya pembahasan atau negosiasi KK antara Rio Tinto dan pemerintah, salah satunya terkait dengan rezim perpajakan yang akan diterapkan, Bintang Delapan atas restu pemda Konawe dan Morowali memulai penambangan yang hasilnya diekspor ke China dalam bentuk mentah.
 
Kasus tersebut sempat mencuat hingga dibahas bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 2008. Pada saat itu, Kementerian ESDM menyarankan agar Rio Tinto berbagi wilayah dengan perusahaan yang bermarkas di sebuah ruko di bilangan Kepala Gading itu. (sut)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top