Impor makanan dan minuman China ke Jatim turun

SURABAYA: Ketatnya kebijakan impor yang diterapkan pemerintah menyebabkan impor makanan dan minuman asal China di Jawa Timur menurun.Yapto Willy Sunarta, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Jatim, menyatakan ada penurunan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 September 2011  |  17:20 WIB

SURABAYA: Ketatnya kebijakan impor yang diterapkan pemerintah menyebabkan impor makanan dan minuman asal China di Jawa Timur menurun.Yapto Willy Sunarta, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Jatim, menyatakan ada penurunan sekitar 5% pada makanan minuman impor asal China pada Agustus."Jika sebelumnya, jumlah makanan dan minuman asal China di Jawa Timur mencapai sekitar 20%, kini hanya tinggal sekitar 10%-15%," katanya kepada wartawan hari ini tanpa memberikan data pasti.Menurut dia, penurunan ini disebabkan oleh makin ketatnya pembatasan pemerintah terhadap masuknya barang impor, tidak hanya di Jatim, tapi juga secara nasional. Selain itu, hal ini juga merupakan cermin keberhasilan produsen lokal dalam meningkatkan daya saingnya."Jika kualitas produk lokal bagus, dan mampu bersaing, maka lama kelamaan produk impor akan 'kalah' sendiri," tegasnya.Liri L. Idham, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, menuturkan pada semester I/2011, volume impor makanan minuman Jatim dari China mencapai sekitar 52.000 ton bernilai US$55,76 juta."Jumlah tadi, berdasarkan data sementara kami, untuk volume menurun 13,82% dan nilai turun 13,92% dibanding periode yang sama tahun lalu," jelasnya.Sementara itu, data BPS Jatim mencatat nilai impor barang konsumsi pada Juli 2011 naik 105% menjadi US$193,483 juta dibanding bulan sebelumnya yang hanya mencapai US$94,265 juta. Total nilai impor Jawa Timur periode Januari-Juli tahun ini mencapai US$12,7 miliar atau naik 43% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.China merupakan negara yang memproduksi barang impor non migas Jatim terbesar selama Juli tahun ini dengan nilai sebesar US$314,20 juta, diikuti Amerika Serikat sebesar US$122,11 juta, dan Thailand dengan US$100,02 juta. (24/tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bunga Citra Arum N

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top