Penyaluran kredit kepada petani sangat rendah

JAKARTA: Realiasi penyaluran kredit perbankan kepada petani rendah, sehingga perlu ada skim kredit yang mengkombinasikan dana penjaminan dan subsidi bunga.Wiwiek Dwi Saksiwi, Asisten Deputi Urusan Kelembagaan dan Pembiayaan Pertanian dan Kelautan Menko
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 18 September 2011  |  11:53 WIB

JAKARTA: Realiasi penyaluran kredit perbankan kepada petani rendah, sehingga perlu ada skim kredit yang mengkombinasikan dana penjaminan dan subsidi bunga.Wiwiek Dwi Saksiwi, Asisten Deputi Urusan Kelembagaan dan Pembiayaan Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian, mengatakan penyerapan berbagai jenis kredit untuk pertanian sangat kecil dibandingkan dengan sektor lainnya seperti perdagangan dan perkebunan."Sangat rendah realiasi penyerapan kredit di sektor pertanian, perlu ada kredit yang mengkombinasikan dana penjamin, subsidi bunga, dan tanpa agunan, sehingga penyerapan kredit oleh petani bisa tinggi" ujarnya seusai Simposium Pembiayaan Pertanian yang diselenggarakan Kadin Indonesia pada akhir pekan.Dia mencontohkan realiasi kredit usaha rakyat (KUR) yang sudah mencapai Rp50 triliun, tetapi untuk sektor pertanian hanya sekitar 20%, sedangkan sisanya sektor perdagangan. Dari 20% realiasi KUR di sektor pertanian pun masih didominasi oleh industri pengolahan atau pascapanen.Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Perkebunan (KPEN-PR) yang mencapai Rp38 triliun hingga saat ini hanya terealisasi Rp1,82 triliun atau 4,7%.Dari realiasi 4,7% itu sebagian besar diserap di sektor perkebunan kelapa sawit sebanyak 92,4%, karet Rp107,1 miliar atau 5,9%, dan kakao Rp30,2 miliar atau 1,6%.Kredit lainnya berupa Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) yang dialokasikan Rp9,7 triliun pun hingga saat ini hanya terealisasi Rp6,4 triliun atau 65% atau rata-rata hanya 13% per tahun.Sementara itu, Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) sebesar Rp3,8 triliun hingga akhir Juni 2011 baru terealiasi sebesar Rp282,4 miliar atau 7,3%. (tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top