Impor makanan & minuman asal Malaysia melonjak

JAKARTA: Sepanjang Januari-Agustus, impor makanan dan minuman asal Malaysia melonjak hampir 59% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, impor dari China relatif stabil bahkan impor dari Thailand dan Hong Kong mengalami
Hilman Hidayat
Hilman Hidayat - Bisnis.com 18 September 2011  |  11:25 WIB

JAKARTA: Sepanjang Januari-Agustus, impor makanan dan minuman asal Malaysia melonjak hampir 59% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, impor dari China relatif stabil bahkan impor dari Thailand dan Hong Kong mengalami penurunan drastis.Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky M. Sibarani mengungkapkan impor makanan dan minuman selama delapan bulan pertama tahun ini mencapai US$155,72 juta atau naik 14% dibandingkan Januari-Agustus 2010.Dari total impor itu, impor dari Malaysia mencapai US$37,89 juta dan menguasai pangsa impor sebesar 24% dari total impor yang masuk ke Tanah Air.Adapun impor dari China tercatat berada di posisi terbesar kedua dengan total nilai impor selama Januari-Agustus sebesar US$20,98 juta. Nilai itu hanya mengalami kenaikan tipis 3,48%.Sementara impor dari Hong Kong dan Thailand masing-masing turun drastis sebesar 82,1% dan 23,7% menjadi US$1,12 juta dan US$14,45 juta."Ini menunjukkan kebijakan impor produk tertentu [Permendag 57/2010] semakin efektif mengendalikan masuknya produk impor mamin dari negara tertentu. Tapi di sisi lain, belum efektif mengendalikan impor dari Malaysia," tutur Franky, hari ini.Dia melanjutkan pengawasan di pasar dalam negeri yang kian ketat, kebijakan pembatasan pelabuhan masuk,dan pembatasan Importir Terdaftar (IT) produk makanan dan minuman turut menahan masuknya produk makanan dan minuman impor dari China, Hong Kong dan Thailand ke dalam negeri.Selain itu, harga produk yang lebih bersaing dan peran masyarakat yang kian kritis terhadap kualitas dan rasa berbagai produk makanan dan minuman, juga ikut menahan nilai impor dari negara luar, terutama dari China. (tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top