Target pertumbuhan ekonomi 6,7% dinilai terlalu tinggi

 
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 16 September 2011  |  15:18 WIB

 

JAKARTA: Pemerintah perlu mengevaluasi target pertumbuhan ekonomi 2012 yang dipatok sebesar 6,7%, dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian global yang sedang terjadi.
 
Pengamat ekonomi yang juga staf pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Anthonius Tony Prasetyantono menuturkan krisis perekonomian global yang terjadi pasti akan berpengaruh terhadap perekonomian nasional.
 
"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terhambat akibat terjadinya krisis. Tahun depan koreksi atas target pertumbuhan yang telah disetujui pasti ada," ujarnya hari ini.
 
Menurut Tony, pertumbuhan sebesar 6,7% itu tidak mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dampak krisis global. Diproyeksikan, angka pertumbuhan tahun depan berada di kisaran 6% hingga 6,5%.
 
Akan tetapi, pengaruh krisis ke perekonomian Indonesia diperkirakan tidak sebesar yang dialami oleh negara emerging market yang lain.
 
"Pemerintah perlu untuk memperhatikan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini sebelum kemudian melakukan revisi atas pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan hingga akhir 2011 bisa menjadi cerminan tahun berikutnya," lanjut Tony.
 
Pemerintah dan DPR akhirnya menyepakati sejumlah asumsi makro ekonomi yang tertuang dalam RAPBN 2012.
 
Empat asumsi yang telah mendapatkan persetujuan adalah pertumbuhan ekonomi disetujui sebesar 6,7%, inflasi 5,3%, suku bunga surat perbendaharaan negara 6,4%, serta nilai tukar rupiah Rp8.800 per dolar AS.
 
Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis menyatakan Komisi XI bisa menerima asumsi makro yang diajukan pemerintah. akan tetapi, ada sejumlah hal yang harus dijalankan pemerintah pada tahun depan.
 
"Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi harus yang berkualitas, dan secara kualitatif berkorelasi dengan kesejahteraan masyarakat dan pengurangan angka kemiskinan," ujarnya kemarin sore. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top