Honam jadi pesaing kuat PTT akuisisi Chandra Asri

 
Hasan Zein Mahmud
Hasan Zein Mahmud - Bisnis.com 15 September 2011  |  11:39 WIB

 

JAKARTA: Honam Petrochemical menjadi pesaing terdekat PTT Chemical untuk mengakuisisi 23% saham Chandra Asri yang kini dikuasai oleh Temasek, Singapura.
 
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (INAPlas) Fajar A.D. Budiyono mengatakan PTT dan Honam tengah berebut untuk mendapatkan saham Temasek di Chandra Asri, produsen petrokimia terbesar nasional saat ini. Selain kedua perusahaan itu, katanya, masih terbuka kemungkinan saham tersebut kembali dibeli oleh Chandra Asri sendiri.
 
“Kemungkinannya masih terbuka [Chandra Asri mengakuisisi kembali saham Temasek]. Tetapi Honam yang sudah menyatakan tertarik tengah berebut dengan PTT Chemical sehingga harus ada beauty contest. Siapapun yang akan membeli, lebih cepat lebih baik,” katanya di Jakarta hari ini.
 
Fajar mengatakan akuisisi saham tersebut oleh investor baru diyakini bisa memperkuat struktur industri perusahaan sehingga menjadi lebih terintegrasi. Apabila PTT yang mengendalikan, katanya, akan menjadi peluang bagi perusahaan untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi baru setelah semakin terbatasnya pasokan bahan baku gas bagi perusahaan di negara asal.
 
Di sisi lain, masuknya Honam juga bisa memperkuat industri petrokimia terkait dengan rencana perusahaan asal Korea Selatan tersebut untuk melakukan investasi baru. “Honam kan punya rencana investasi kilang etilena dengan kapasitas 450.000 ton per tahun di Indonesia. Kalau mereka yang masuk juga positif, artinya investasi itu bakal lebih cepat terealisasi.”
 
Chandra Asri menguasai sekitar 40%—55% total pasar olefin dan polyolefin nasional, dan memonopoli pasar styrene-monomer. Perusahaan tersebut bisa memproduksi sekitar 525.000 ton etilena per tahun dan 240.000 ton propilena setahun.
 
Sementara itu, situasi pasar polyolefin global dalam kondisi lesu permintaan menjelang hari kemerdekaan China. Fajar mengatakan harga polipropilena berdasarkan CFR South East Asia turun hingga US$30 per ton pekan ini dibandingkan dengan pekan sebelumnya, yaitu dari posisi US$1.650—US$1.670 menjadi sekitar US$1.620—US$1.640 per ton.
 
Padahal, tuturnya, situasi pasar propilena justru cenderung naik US$10 dari posisi US$1.440—US$1.510 per ton. Dia memperkirakan kenaikan harga propilena tersebut disebabkan terjadinya banyak gangguan pada naphta cracker dan juga RFCC sehingga memengaruhi pasokan ke pasar.
 
Harga polietilena cenderung stabil walaupun mengalami penurunan tipis. Pasar HDPE (high density polyethylene) berada di kisaran harga US$1.380—US$1.410 per ton, sedangkan LLDPE (linear low density polyethylene) pada level US$1.320—US$1.370 per ton.
 
“Jadi kami perkirakan lesunya pasar petrokimia ini lebih bersifat jangka pendek karena berkurangnya permintaan dari China untuk menghadapi perayaan kemerdekaan. Diharapkan pekan depan sudah mulai stabil,” katanya.
 
Stabilitas tersebut, katanya, juga diharapkan bisa berdampak positif bagi industri petrokimia nasional yang sempat mengalami kejutan ringan dengan penurunan harga sepekan setelah Lebaran.
 
Dia mengatakan sejauh ini tingkat konsumsi makanan dan minuman yang masih tinggi menjadi sokongan positif bagi industri petrokimia nasional.
 
“Bagaimana situasi industri petrokimia pada Oktober mendatang karena memasuki musim penghujan, kami belum bisa prediksi karena saat ini harga minyak mentah juga masih fluktuatif,” katanya. (ln)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top