Depresiasi rupiah bersifat sementara

JAKARTA: Pemerintah yakin pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hanya bersifat sementara, yang pembalikannya akan sangat tergantung dari perbaikan kondisi keuangan Eropa.Bambang Permadi Sumantri Brodjonegoro, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal,
- Bisnis.com 14 September 2011  |  20:31 WIB

JAKARTA: Pemerintah yakin pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hanya bersifat sementara, yang pembalikannya akan sangat tergantung dari perbaikan kondisi keuangan Eropa.Bambang Permadi Sumantri Brodjonegoro, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu, menuturkan depresiasi rupiah hari ini disebabkan kekhawatiran banyak investor akan kondisi perekonomian Eropa yang makin memburuk di tengah perlambatan ekonomi di Ameriak Serikat (AS).Hal tersebut memicu investor untuk melakukan lindung nilai (hedging) dengan memilih dolar AS sebagai aset yang paling aman saat ini (save heaven)."Save heaven saat ini memang masih dolar AS sehingga mereka banyak membeli dolar AS. Itu yang tentunya berpengaruh terhadap rupiah. Jadi karena ada penguatan dolar AS terhadap semua mata uang, dan [rupiah] kita salah satunya," ujar dia.Pelemahan rupiah, menurutnya, sedikit atau banyak karena faktor keluarnya modal dari Tanah Air. Namun hal itu bukan karena faktor kondisi fundamental perekonomian Indonesia, melainkan karena kondisi global."Artinya [pelemahan Rupiah] tergantung kondisi di Eropa. Mudah-mudahan Zona Euro bisa segera cari solusi. Karena bukan hanya masalah Yunani, tapi sudah meluas sampai ke negara Eropa lain, seperti Prancis dan Italia," tuturnya.Untuk menyikapi itu, kata Bambang, pemerintah dan bank sentral sudah menyiapkan manajemen protokol krisis untuk menjaga pasar surat utang negara tetap stabil. "Mudah-mudahan ini temporer. Tergantung bagaimana kami menyiasati kondisi terakhir."Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Utang, Kemenkeu, Rahmat Waluyanto membantah jika ada pelarian modal yang memicu pelemahan rupiah. Depresiasi kurs terjadi karena kekhawatiran sejumlah bank akan keketatan likuiditas yang mengancam pasar global."Itu memang karena kekhawatiran dari beberapa bank tentang kondisi likuiditas yang bakal ketat di seluruh dunia. Karena kan dua bank besar di Prancis di-downgrade karena dikhawatirkan kondisi krisis di Eropa memburuk," tuturnya. (tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top