Manuver untuk hadapi krisis ekonomi 2012 makin sempit

JAKARTA: Pemerintah harus mengantisipasi sempitnya ruang manuver dalam potensi krisis ekonomi global tahun 2012. Pasalnya, mantra model pembangunan, yakni tingginya saving rate dan strategi berorientasi ekspor, dianggap tidak lagi manjur.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 13 September 2011  |  19:09 WIB

JAKARTA: Pemerintah harus mengantisipasi sempitnya ruang manuver dalam potensi krisis ekonomi global tahun 2012. Pasalnya, mantra model pembangunan, yakni tingginya saving rate dan strategi berorientasi ekspor, dianggap tidak lagi manjur.

Demikian diungkapkan peneliti senior Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) Haryo Aswicahyono dalam sebuah diskusi bertajuk Ancaman Krisis Ekonomi dan Sektor Perbankan Indonesia di Jakarta, hari ini.
 
"Pada krisis 1997-1998, devaluasi rupiah membuat ekspor menjadi profitable, meningkatkan devisa dan meringankan krisis dengan cepat. Jadi room of manuver-nya besar," ujar Haryo. 
 
 
Krisis 2008 ruang manufernya juga cukup besar karena ekonomi China tumbuh cukup besar yang memberikan stimulus fiskal dan insentif ekspor bagi Indonesia. 
 
"Krisis berikutnya [2011], ruang manuver di China dan emerging country lebih lemah lagi," lanjut peneliti CSIS itu. 
 
Haryo menyontohkan China yang mulai mengalami masalah tingginya inflasi, kelebihan kredit perbankan, property buble, dan sebagainya. "Artinya, pada saat nanti terjadi krisis, China tidak akan bisa sehebat 2008 untuk menstimulus ekonominya, kalau China anjlok, semua kena." 
 
Kini solusinya bukan lagi stimulus finansial besar-besaran dan pengalihan ekspor seperti yang terjadi pada krisis-krisis terdahulu, tetapi lebih pada pemanfaatan pasar dan industri domestik secara optimal.  
 
"Indonesia cukup beruntung karena memiliki pasar domestik yang cukup besar, potensi pasar domestik inilah yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya," ujar Haryo. 
 
Dia menganggap, optimalisasi pasar domestik mampu meningkatkan konsumsi dalam negeri dan menyeimbangkan neraca perdagangan global yang cenderung melemah seiring melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia pada 2012 yang diprediksi akan mengalami penurunan dari 4,5% menjadi 4%. 
 
"Fleksibilitas untuk switch dari ekspor ke domestik itu yang diperlukan, tentu didukung logistik dan infrastruktur yang bagus. Maka saat Amerika, China dan Eropa krisis,  kita masih punya buffer yaitu permintaan domestik dan investasi domestik, jadi itu yang harus disiapkan," kata Haryo.(sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ana Noviani

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top