Fasilitas impor raw sugar PT Permata Tene dinilai tak perlu

JAKARTA: Beberapa pemangku kepentingan sektor pergulaan tidak sepakat dengan permintaan fasilitas bahan baku gula mentah (raw sugar) selama 3 tahun yang akan diberikan pada PT Permata Tene di Proboloinggo yang direncanakan mulai beroperasi pada 2014.Ketua
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 Juli 2011  |  06:27 WIB

JAKARTA: Beberapa pemangku kepentingan sektor pergulaan tidak sepakat dengan permintaan fasilitas bahan baku gula mentah (raw sugar) selama 3 tahun yang akan diberikan pada PT Permata Tene di Proboloinggo yang direncanakan mulai beroperasi pada 2014.Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Soemitro Samadikun mengkhawatirkan pendirian PT Permata Tene akan serupa dengan kejadian pada pendirian PT Industri Gula Nusantara (IGN) yang mendapatkan fasilitas bahan baku impor raw sugar. Padahal, PT IGN merupakan pabrik gula berbasis tebu, bukan berbahan baku raw sugar.“Kami [petani tebu] resah dengan rencana itu, meskipun di satu sisi merasa senang dengan pendirian pabrik gula baru yang dapat memabntu rencana pemerintah dalam mewujudkan swasembada gula pada 2014,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.PT Permata Tene, anak perusahaan dari PT Makasar Tene yang merupakan produsen gula rafinasi, menyiapkan investasi Rp1,2-Rp1,5 triliun untuk membangun pabrik gula berbasis tebu berkapasitas 115.200 ton per tahun.PG itu butuh lahan tebu baru sekitar 17.000 hektare di Probolinggo dan Lumajang Utara, Jawa Timur dengan produksi mencapai 8.000 TCD [ton canne per day) dengan asumsi rendemen 8%-9%.Soemitro menjelaskan jika PG itu berkapasitas 8.000 TCD, maka dengan asumsi rendemen 8%, akan menghasilkan gula sebanyak 640 ton per hari. Adapaun, masa giling tebu mencapai 150 hari selama setahun, sehingga PT Permata Tene dapat menghasilkan gula sebanyak 96.000 ton per tahun.Adapaun, tebu yang dibutuhkan sebagai bahan baku dalam setahun oleh pabrik gula itu sebanyak 1,2 juta ton. Sementara itu, produksi tebu mencapai 100 ton per ha, sehingga dengan lahan seluas 17.000 ha, maka akan menghasilkan 1,7 juta ton.Wakil Sekjen DPN APTRI M. Nur Khabsyin mengatakan jika perusahaan itu berencana produksi pada 2014, maka sejak tahun ini seharusnya sudah mulai melakukan pembibitan.Dia memaparkan tahap pertama yaitu pada tahun ini, seharusnya PT Permata Tene mulai melakukan pembibitan tebu induk pada lahan seluas 27 ha, lalu pada semester I/2012 bibit induk tersebut ditangkarkan pada lahan seluas 136 ha dan pada semesester berikutnya pada 680 ha.Proses penangkaran bibit tebu induk tersebut masih berlanjut pada 2013 pada lahan seluas 5.400 ha. Setelah itu, PT Makasar Tene sudah dapat menanam tebu pada 2014 pada lahan seluas 17.000 ha yang sudah dapat memenuhi seluruh bahan baku tebu untuk pabrik.Berdasarkan catatan Bisnis, untuk menunggu masa panen tebu berlangsung penuh, dalam 4 tahun pertama perseroan akan mengimpor bahan baku berupa gula mentah sebesar 75.000 ton pada tahun pertama dan memanfaatkan 25% pasokan dari tebu petani.Pada tahun kedua, impor gula mentah rencananya dikurangi menjadi 50.000 ton dan 50% dari lahan tebu sendiri."Jadi, selama 3 tahun PT Permata Tene akan dibantu dengan raw sugar. Padahal, kalau memang hendak membangun PG berbasis tebu, maka sejak awal sudah menggunakan bahan baku tebu bukan raw sugar. Ini yang kami khawatirkan akan terjadi sama dengan kejadian di PT IGN."Khabsyin memaparkan jika berdasarkan formula idle capacity (kapasitas tidak terpakai), maka hanya diperbolehkan menggunakan raw sugar maksimal 20% dari total kapasitas terpasang. "Artinya, fasilitas impor raw sugar dari PT Permata Tene bukan 75.000 ton atau 75%, tetapi hanya 20% atau 20.250 ton per tahun, itu maksimal."Dia menambahkan pola fasilitas raw sugar tersebut sama persis dengan fasilitas yang diterima oleh PT IGN. Hal itu, lanjutnya, membuat kecurigaan petani tebu terhadap rencana pendirian PT Permata Tene.Pertimbangan lainnya, menurut dia, di Probolinggo sudah ada 3 PG yaitu PG Wonolagan, Gending, dan Pajarakan, milik PTPN XI, sedangkan di Lumajang terdapat 1 PG Jatiroto.Dari sisi lahan, kata dia, sudah susah untuk mendapatkan lahan seluas 17.000 ha di wilayah tersebut, karena PT Permata Tene harus bersaing dengan keempat pabrik gula yang sudah ada di wilayah itu.Saat diminta pendapat soal permintaan fasilitas raw sugar oleh PT Permata Tene, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) M. Yamin Rachman tidak setuju dengan fasilitas tersebut.“Kalau mereka meminta impor raw sugar selama 3 tahun sebagai idle capacity seperti IGN, ini sudah tidak benar,” jelasnya. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top