Kemenhut siapkan dana sawah rusak akibat satwa liar

JAKARTA: Kementerian Kehutanan mengalokasikan dana khusus bagi korban konflik masyarakat dengan satwa liar, terutama yang merusak lahan pertanian dan perkebunan di sejumlah daerah.
Arif Budi Winarto
Arif Budi Winarto - Bisnis.com 27 Mei 2011  |  11:05 WIB

JAKARTA: Kementerian Kehutanan mengalokasikan dana khusus bagi korban konflik masyarakat dengan satwa liar, terutama yang merusak lahan pertanian dan perkebunan di sejumlah daerah.

"Masyarakat yang menjadi korban kerusakan satwa liar akan memperoleh kompensasi dari Kementerian kehutanan yang selama ini belum memiliki anggaran khusus,ungkap Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan hari ini.

Namun, sambungnya, pendanaan itu masih dikaji tanpa melanggar ketentuan penggunaannya. Jika perlu, ujarnya, dana diambil dari anggaran operasional menteri.

Menhut mengharapkan masyarakat tidak mengada-ada meminta ganti kerugian kepada pemerintah untuk memperoleh kompensasi. Kompensasi yang diberikan tentunya yang wajar. Kalau harganya Rp1.000 jangan dibilang Rp5.000. Jadi, jangan ditambah-tambah.

Dia mencontohkan konflik yang terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang memiliki luas 125.000 ha dan menjadi rumah bagi 200-250 ekor gajah. Konflik diperkirakan terjadi karena perubahan pola makan gajah dari jenis tumbuhan hutan ke jenis tanaman pertanian.

Di kawasan itu sejak 2010 hingga semester pertama 2011 terjadi konflik sebanyak 117 kali dengan jumlah rombongan gajah sebanyak 5-35 ekor.

Data tim kerja tim terpadu penanganan konflik satwa liar gajah dengan manusia di Kabupaten Lampung Timur mengungkapkan kerusakan lahan tanaman padi akibat konflik pada 2010 mencapai sekitar 174 ha yang tersebar di 22 desa penyangga TNWK. Dengan asumsi setiap hektare menghasilkan 6 ton gabah kering dan dihargai Rp2.500 per kilogram, nilai kerugian mencapai Rp2,61 miliar.

Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kemenhut Darori mengatakan Kemenhut mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi konflik antara masyarakat dengan satwa liar tersebut. Misalnya, peningkatan intensitas patroli pada daerah rawan konflik di 22 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNWK dengan menempatkan gajah halau dari Pusat Latihan Gajah.

"Kemenhut melalui Balai TNWK juga melakukan penanaman pakan gajah seluas 20 hektare dari rencana 100 hektare dengan jenis tanaman yang disukai gajah, yaitu bambu, pisang, rumput gajah, selangkar dan tebu.

Dalam jangka panjang untuk menanggulangi konflik yang bersifat permanen, mulai tahun 2012 secara bertahap dilaksanakan kegiatan antara lain revitalisasi atau normalisasi kanal sepanjang 29 kilometer, pembuatan talud sepanjang 6 km, dan pembuatan talud rawa dengan sistem bronjong sepanjang 2 km.(bas)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top