Pasokan listrik tambak udang eks Dipasena belum tuntas

JAKARTA: Petambak plasma eks Dipasena belum akan berproduksi dalam waktu dekat karena masalah pasokan listrik belum tuntas, menyusul biaya listrik yang ditawarkan oleh PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) terlalu mahal Rp675 miliar.
Arif Budi Winarto
Arif Budi Winarto - Bisnis.com 27 Mei 2011  |  10:35 WIB

JAKARTA: Petambak plasma eks Dipasena belum akan berproduksi dalam waktu dekat karena masalah pasokan listrik belum tuntas, menyusul biaya listrik yang ditawarkan oleh PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) terlalu mahal Rp675 miliar.

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Ketut Sugama mengatakan biaya diesel mencapai Rp325 miliar dan biaya jaringan mencapai Rp350 miliar, sehingga total dana yang dibutuhkan untuk menyalakan aliran listrik di kawasan tambak plasma eks Dipasena Rp675 miliar.

"Listrik mahal, untuk diesel Rp325 miliar dan untuk jaringan listrik Rp350 miliar sehingga total dibutuhkan dana Rp675 miliar," ujarnya kepada wartawan hari ini.

Dia menjelaskan pemerintah masih mencari solusi untuk segera mengatasi perselisihan PT AWS dan petambak plasma eks Dipasena. Yang penting listrik bisa menyala dahulu untuk kepentingan keluarga di sana.

Dia berpendapat seharusnya PT AWS menjual diesel dan genset dengan harga murah atau menyelesaikan permasalahan itu dengan win-win solution dan mencari akar permasalahan, sehingga revitalisasi tambak udang bisa terus berjalan.

Revitalisasi tambak udang itu, imbuhnya, berdasarkan perjanjian kerja sama PT AWS dengan petambak plasma eks Dipasena.

Dia menjelaskan salah satu alternatif untuk segera menyalakan aliran listrik dengan mencoba bekerja sama dengan PT PLN dengan menggunakan bahan bakar solar atau dengan menyewa genset dari luar.

Produksi udang pada 2010 mencapai 352.000 ton, sedangkan produksi udang dari PT AWS pada sebanyak 20.000 ton. Hingga berhenti beroperasi pada 7 Mei 2011, PT AWS baru memproduksi udang sebanyak 13.000 ton. "Kemungkinan produksi udang tahun ini turun sekitar 100.000 ton."

Dia tidak mengetahui kapan tambak tersebut akan beroperasi lagi, karena sangat bergantung kepada manajemen PT AWS. Kementerian Kelautan dan Perikan, sambungnya, telah menjamin bahawa kondisi di tambak sudah kondusif dan PT AWS dapat melanjutkan proses produksi udang.

Namun, PT AWS belum bersedia untuk memulai produksi udang di tambak itu, kendati pemerintah telah menjamin kondisi di tambak aman.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan telah meminta bantuan kepada PLN untuk segera mengalirkan listrik ke kawasan tambak eks Dipasena sebagai solusi dalam jangka pendek. "Idenya agar petambak plasma itu menjadi petambak mandiri AWS sudah angkat tangan tidak berkenan untuk bekerja sama, sehingga pemerintah harus menolong petambak plasma itu." (bas)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top