Proyek terminal gas Muara Karang dimulai

JAKARTA : PT Pertamina (Persero) bersama PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk hari ini memulai ground breaking pembangunan infrastruktur FSRT (Floating Storage Regasification Terminal) di Muara Karang, Jawa Barat. VP Corporate Communication Pertamina
Fatkhul-nonaktif
Fatkhul-nonaktif - Bisnis.com 27 Mei 2011  |  11:31 WIB

JAKARTA : PT Pertamina (Persero) bersama PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk hari ini memulai ground breaking pembangunan infrastruktur FSRT (Floating Storage Regasification Terminal) di Muara Karang, Jawa Barat. VP Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun mengatakan pembangunan FSRT adalah sebagai upaya pemanfaatan LNG untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya bagi pembangkit listrik PLN."Pembangunan infrastruktur FSRT juga menjadi milestone infrastruktur LNG di Indonesia, dimana setelah lebih kurang 30 tahun negara kita memproduksi LNG, baru saat ini LNG dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri," ujarnya dalam siaran pers hari ini.Proyek ini diwujudkan oleh PT Nusantara Regas, perusahaan patungan Pertamina (60%) dan PGN (40%). FSRT tersebut rencananya akan beroperasi pada Januari 2012 dengan kapasitas 3 juta ton LNG per tahun atau setara 400 juta kaki kubik gas bumi per hari (MMscfd) yang akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik PLN Muara Karang dan Tanjung Priok, Jakarta.Untuk mengalirkan gas bumi hasil regasifikasi LNG dari FSRT ke pembangkit listrik PLN di Muara Karang, akan dibangun jaringan pipa bawah laut sepanjang 15 km dengan ukuran 24 inch. Alokasi LNG yang diperoleh saat ini sebesar 1,5 juta ton per tahun atau setara dengan 200 MMscfd dari kontraktor Blok Mahakam, Kalimantan Timur. Saat ini, Nusantara Regas sedang mengupayakan tambahan pasokan LNG hingga mencapai kapasitas maksimum.FSRT di Jawa Barat ini merupakan FSRT dengan sistem bongkar muat LNG dari kapal ke kapal (ship to ship) yang pertama kali di Asia dan merupakan FSRT ke-12 di dunia. Keunggulan FSRT ini jika dibandingkan dengan terminal LNG di darat adalah biaya pembangunan dan pengoperasian lebih murah, waktu pembangunan lebih singkat dan dapat dilakukan mobilisasi dengan mudah sehingga tepat untuk negara kepulauan seperti Indonesia. (gak)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top