Pemerintah bidik masuk 10 kekuatan ekonomi dunia

BOGOR: Pemerintah mempertajam program aksi untuk untuk visi Indonesia 2025 dengan program andalan pengembangan enam koridor ekonomi yang mengintegrasikan industri hulu ke hilir dengan berbasis sumberdaya alam yang terkandung di Tanah Air.
Yanto Rachmat Iskandar
Yanto Rachmat Iskandar - Bisnis.com 30 Desember 2010  |  11:57 WIB

BOGOR: Pemerintah mempertajam program aksi untuk untuk visi Indonesia 2025 dengan program andalan pengembangan enam koridor ekonomi yang mengintegrasikan industri hulu ke hilir dengan berbasis sumberdaya alam yang terkandung di Tanah Air.

Sasarannya pada 2025 menyodok menjadi kekuatan ekonomi nomor 10 di dunia dengan memiliki nilai PDB berkisar US$2,7 triliun hingga US$4,7 triliun dan tingkat pendapatan per kapita nasional sekitar US$12.000- US$16.000.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan penajaman visi itu akan diwujudkan dalam bentuk roadmap program pembangunan yang lebih rinci yang akan diluncurkan pada Februari 2011 sebagai penyempurnaan dari RPJM dan RPJP yang sudah ada.

"Apa yang kita bahas [di Istana Bogor] merupakan penajaman masterplan sebuah roadmp yang menukik untuk mencapai sasaran dan tujuan visi Indonesia 2025. Membahas peluang dan tantangan Indonesia di tengah kawasan yang bergerak dinamis di tengah kawasan regional dan global yang terus mengintegrasi," katanya di Istana Bogor, hari ini.

Dalam hal ini, lanjutnya, andalanya terletak pada enam koridorekonomi yang telah dicetuskan, yaitu proyek rel kereta api dan jalan tol Pantai Timur Sumatera dari Aceh sampai Bakauheni, Jembatan Selat Sunda hingga Banten dan Jawa Barat, Jawa TengahBali dan Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Kalimantan.

Hatta mengatakan proyek Jabodetabek adalah proyek percontohannya yang segera dimulai pada 2013 yang bermitra dengan Jepang.

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta jajaran kabinet di bidang ekonominya untuk mempertajam program RPJM dan RPJP dengan melakukan perbandingan pada sejumlah negara pembanding yang dianggap sukses.

Kepala Negara menyebut beberapa negara pembanding, di antaranya China dan Korsel, Singapura, India, dan Malaysia yang dianggap berhasil mengembangkan Rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) dan Rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) nya sehingga membawa perekonomiannya tumbuh dengan cepat.

Hal itu disampaikannya saat membuka retreat bidang ekonomi di Istana Bogor, hari ini.

Dalam kesempatan itu, Presiden didampingi Wapres Boediono dan diikuti antara lain oleh Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, Ketua UKP4 Kuntoro Mangkusubroto, Menko Kesra Agung Laksono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menhub Freddy Numberi, Memperin MS Hidayat, Kepala BKPM Gita Wiryawan, Menkeu Agus Martowardojo, Kepala Bappenas Armida S. Alisyahbana, Mendag Mari Elka Pengestu, Seskab Dipo Alam, Menseneg Sudi Silalahi, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menteri ESDM Darwin Saleh, dan Gubernur DKI Fauzi Bowo.

Menurut Kepala Negara, kabinet bersama dengan pejabat terkait harus bisa mempertajam kedua pedoman aksi pembangunan itu untuk memastikan kinerja pemerintahan bisa menghasilkan sesuatu yang riil, terutama masa periodesasi kabinet Indonesia Bersatu II yang berakhir pada 2014.

Dalam hal ini, lanjutnya, keberhasilan sejumlah negara yang dijadikan pembanding bisa menjadi pertimbangan bagi penajaman untuk RPJM dan RPJP tersebut "Untuk itu, pertemuan sehari ini diharapkan bisa menghasilkan sesuatu yang kongkrit bagi penajaman program pembangunan pemerintah," kata Kepala Negara. (mrp)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top