ACFTA pukul bisnis ritel

M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 30 Desember 2010  |  08:35 WIB

JAKARTA: Pemberlakuan ACFTA dianggap mempengaruhi performance pasar retail modern sepanjang 2010.

Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) mengungkapkan, pasar retail 2010 memiliki perbedaan dari sisi produk jika dibandingkan tahun sebelumnya,dipengaruhi oleh membanjirnya produk asal China yang didorong masuk melalui ACFTA.

"Tahun ini diwarnai oleh membanjirnya produk China, khususnya elektronik, juga fashion dan food, tetapi masih didominasi oleh elektronik.Hal ini sangat mempengaruhi juga terhadap performance tahun ini [2010]," ujar Rudy Sumampouw, Sekjen Aprindo saat dihubungi Bisnis hari ini.

Produk China tersebut menurut Rudy sangat mempengaruhi supply dalam negeri sehingga memberi banyak pilihan bagi konsumen. Hal tersebut merupakan hal baik bagi peritel karena perluasan pilihan berarti perluasan pasar dan pelanggan.

Namun demikian pasar produk China yang masih belum pasti dapat menjadi salah satu faktor kerugian bagi usaha retail. Rudy menegaskan, untuk produkexisting, peritel sudah mengetahui pasar sehingga kerugian dapat ditekan, tetapi untuk produk China, masih spekulatif.

"Kami belum tahu apakah produk itu bisa diterima konsumen dalam jangka panjang. Kalau hanya satu dua waktu laku, selanjutnya tidak, berarti saya rugi karena sudah ambil produk yang keliru. Namun ada juga peritel yang arahnya spekulasi ke sana," tambahnya.

Persoalan lain dari produkasal China adalah tidak adanya jaminan kontinuitas. "Perlu diantisipasi apakah produk China dapat bertahan di pasar dalam negeri mengingat supply dari sana membutuhkan waktu yang cukup panjang. Juga kami tidak tahu dapat terus mengisi kebutuhan atau tidak," imbuh Rudy.

Meski tidak mengubah konstelasi peritel, produk China justru mengubah konstelasi pemasok. Rudy menjelaskan ada beberapa pemasok baru yang bermunculan seiring dengan berjalannya ACFTA.

Pemasok baru itu,diantaranya merupakan pelaku industri yang beralih menjadi trader. Menurut Rudy, dengan beralih menjadi pemasok maupun trader produsen tak lagi repot membayar SDM maupun mengelola pabrik, hanya perlu memasok barang dengan keuntungan yang sama.

"2011 kita antisipasi supaya performance retail dalam negeri diwarnai juga produk dalam negeri, ditambah kampanye pemerintah, salah satunya Aku Cinta Indonesia, masih perlu kita antisipasi bagaimana baiknya di 2011 untuk semua pihak," kata Rudy.

Sementara, masuknya Lotte, raksasa retail dari Korea, ke pasar retail hipermarket dan wholesale dianggap tidak memiliki pengaruh yang signifikan karena Lotte dianggap tidak terlalu banyak mengubah konsep Makro yang kini diakuisisinya. Selain itu untuk gerai hipermarket, Lotte juga dianggap belum menunjukan gebrakan yang dapat mengkhawatirkan pemain lama.

"Lotte masuk kan mengganti baju Makro, sekarang arahnya memang bermain di pasar hipermarket, tetapi mereka masih transisi, tidak signifikan pengaruhnya terhadap pasar ritel modern yang sudah ada," tambahnya.

Saat ini, pasar retail modern masih berharap pada sisa hari di penghujung 2010 untuk menambah penjualan dan meningkatkan performa masing-masing gerai.

"Kami minggu ini masih menunggu beberapa hari terakhir, karena hari-hari ini yang jadipeak season-nya. Masih sangat diharapkan biar bisa meningkat dan sale maksimal. Target Rp100 triliun InsyaAllah tercapai," tutur Rudi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top