Pertamina tunda pengadaan kapal senilai US$100 juta

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) akan menunda rencana pengadaan lima unit kapal angkutan pelumas dan bahan bakar minyak senilai US$100 juta tahun depan menyusul fokus perusahaan yang lebih memprioritaskan ekspansi di bisnis hulu minyak dan gas bumi.
News Editor | 29 Desember 2010 04:57 WIB

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) akan menunda rencana pengadaan lima unit kapal angkutan pelumas dan bahan bakar minyak senilai US$100 juta tahun depan menyusul fokus perusahaan yang lebih memprioritaskan ekspansi di bisnis hulu minyak dan gas bumi.

Deputi Direktur Perkapalan Pertamina Suhartoko mengatakan sejak 2008 perusahaan memiliki rencana pengadaan 47 kapal milik sendiri hingga 2015. Sejauh ini, tuturnya, perusahaan telah menandatangani kontrak sebanyak 24 unit kapal baru.

Tahun depan, katanya, Pertamina sedianya menargetkan pelaksanaan program pembangunan lima kapal baru, masing-masing terdiri dari dua unit kapal untuk angkutan pelumas senilai US$25 juta dan tiga unit untuk transportasi BBM seharga US$75 juta. Namun, katanya, karena pertimbangan prioritas yang lebih tinggi di sektor hulu, Pertamina akan menunda pelaksanaan program pengadaan kapal-kapal tersebut.

Karena bagaimana pun Pertamina punya keterbatasan. Sedianya kami punya program untuk membangun kapal baru di samping 24 kapal yang sedang diselesaikan. Namun, karena pertimbangan prioritas yang lebih tinggi di hulu, Pertamina menunda dulu untuk investasi di bidang perkapalan, urainya kepada Bisnis hari ini.

Suhartoko mengatakan saat ini Pertamina dalam proses evaluasi hasil tender pemesanan kapal VLGC untuk angkutan elpiji yang dilakukan pada Oktober lalu. Menurut dia, saat ini Pertamina bernegosiasi dengan tiga galangan kapal besar asal Korea Selatan yang ikut dalam tender pengadaan kapal terbesar Pertamina tersebut.

Sekarang lagi proses negosiasi dan mudah-mudahan ada titik temu. Nego tersebut karena antara yang ditawarkan dengan yang kami estimasikan berbeda. Mereka menawarkan di atas US$75 juta, sedangkan kami hanya mematok US$73 juta. Ini sedang kami lihat bedanya di mana, ungkapnya.

Pertamina menargetkan penandatanganan kontrak pengadaan kapal besar tersebut pada Januari tahun depan. Kalau deal, ini akan menjadi kontrak ke-25 kami.

Sementara itu, Suhartono mengatakan untuk pengadaan kapal baru, Pertamina dan Kementerian Perindustrian menggalakkan penggunaan galangan kapal BUMN dan nasional, terutama untuk kapal-kapal yang sudah bisa dibuat di dalam negeri. Dia mengatakan dari 24 kontrak yang sudah ditandatangani, sembilan kapal telah memanfaatkan jasa galangan kapal nasional.

Dua unit kapal 17.000 death weight ton [DWT] dari PAL Surabaya, tiga unit 6.500 DWT dari Dok Perkapalan Surabaya, tiga unit 3.500 DWT dari Daya Radar Utama Jakarta dan Lampung, serta satu unit 3.500 DWT dari Dumas Shipyard Surabaya, katanya.

Sebenarnya, tuturnya, galangan kapal nasional telah memiliki kemampuan untuk membuat kapal berkapasitas 50.000 DWT, yaitu dari PAL. Tetapi itu terbatas untuk bulk carrier sedangkan untuk oil tankernya baru 35.000 DWT. Di Batam sedang dirintis 85.000 DWT tetapi belum jadi.

Bahkan, tuntuk kapal angkutan elpiji Pertamina berkomitmen untuk memberikan proyek tersebut untuk galangan kapal nasional, kendati terdapat perbedaan harga yang cukup signifikan antara galangan kapal nasional dan asing. Dia mencontohkan untuk kapal angkutan elpiji pressurized berbobot 3.500 DWT, galangan China memberikan penawaran tertingginya sebesar US$14 juta, sedangkan galangan kapal nasional menawarkan US$19 juta.

Itu karena tangki elpijinya sendiri belum bisa dibuat di dalam negeri sehingga harus diimpor dan itu dikenakan biaya angkut, katanya.

Untuk mengatasi hal itu, tuturnya, Dewan Direksi, Dewan Komisaris Pertamina dan Pemerintah telah merumuskan rencana untuk meminimalkan biaya supaya nilai penawaran galangan nasional bisa masuk dalam anggaran Pertamina. Beberapa upaya yang akan dilakukan, sambungnya, antara lain pengadaan barang impor yang di-cover oleh Pertamina melalui LC serta pemberian penggunaan fasilitas dan kemudahan Pertamina dalam memasok peralatan yang dibutuhkan dalam operasional galangan.

Itu berdasarkan perhitungan kami bisa mengurangi biaya sekitar US$2,5 jutaUS$3 juta sehingga masih ada selisih US$1,5 jutaUS$2 juta yang sedang dipikirkan, ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top