ACFTA dorong ekspor tekstil Indonesia

JAKARTA: ACFTA mendorong peningkatan ekspor produk tekstil Indonesia dari US$150 juta per tahun, diperkirakan menjadi US$300 juta sampai akhir 2010 setelah dilakukan kesepakatan. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memprediksi peningkatan ekspor akan
M. Munir Haikal | 29 Desember 2010 11:28 WIB

JAKARTA: ACFTA mendorong peningkatan ekspor produk tekstil Indonesia dari US$150 juta per tahun, diperkirakan menjadi US$300 juta sampai akhir 2010 setelah dilakukan kesepakatan.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memprediksi peningkatan ekspor akan terus terjadi mengingat China mulai berinvestasi melalui pabrik tekstil yang akan mulai berproduksi pada 2012.

Kenaikan ini tidak bisa dianggap euphoria karena tidak signifikan. Indonesia berangkat dari kecil. Pertumbuhan kalau dilihat dari persen tampak tinggi karena ekspor kita kecil. Sedangkan ekspor China jauh lebih besar. Misalnya kita naik 100%, bisa jadi jumlahnya tetap lebih kecil dari China yang naik hanya 10%, ungkap Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) saat dihubungi Bisnis, Rabu.

Peningkatan itu ditunjang oleh pendirian pabrik garmen, investasi China di Indonesia yang akan selesai kuartal akhir 2011. Pabrik ini diproyeksikan mulai berproduksi pada 2012. Oleh sebab itu Ade optimistis ekspor Indonesia ke China akan meningkat.

Perdagangan Indonesia-China di tekstil bisa meningkat sampai 50-50, kalau sekarang kita masih defisit karena impor tekstil dari China mencapai hampir Rp1 miliar, tuturnya.

Namun, Ade mengatakan Indonesia harus lebih terbuka terhadap investasi investor masuk lebih banyak dan neraca perdagangan dapat positif. Menurutnya, selama ini aturan investasi terlalu rumit sehingga investor malas berinvestasi ke Indonesia yang berimbas pada kurang signifikannya ekspor produk jadi.

Selain itu, Ade juga menuturkan,saat ini ada lebih dari 10 anggota asosiasi yang sedang mengajukan permodalan dari China Exim Bank. Ade yakin hingga pertengahan 2011, dana dari China Exim Bank dapat terserap sepenuhnya oleh pengusaha Indonesia.

Sekarang sedang diproses, yang paling banyak mengajukan itu Jawa Tengah, di Jakarta ada dua yang mengajukan, Jawa Barat juga ada yang mengajukan. Tetapi Jawa Barat tidak banyak. Mereka ga mau pakai mesin China, maunya Jepang atau Jerman, kata Ade yang enggan merinci nama-nama pengusaha itu.

Ade juga menjelaskan pemerintah China mendorong ekspor tekstil dari Indonesia ke negaranya melalui penawaran pameran komoditi yang akan diselenggarakan September 2011. Ini peluang bagus untuk perluasan ke pasar China, kalau tidak, naiknya tidak signifikan, tambahnya.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko memandang peningkatan ekspor persepatuan ke China merupakan sesuatu yang sesuai rencana. Memang sesuai prediksi kita bahwa ekspor [persepatuan] Indonesia untuk ke china itu secara gradual akan meningkat, tegasnya.

Menurut dia peningkatan itu terjadi salah satunya lantaran China lebih mengonsentrasikan industrinya kepada industri berteknologi tinggi. Saat ini China tidak lagi memproteksi industri persepatuan sehingga belakangan banyak pabrik sepatu yang ditutup di negara tirai bambu itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top