Omzet produk mainan diprediksi naik 20%

JAKARTA: Pasar mainan edukatif dan tradisional buatan lokal pada tahun depan diproyeksi tumbuh signifikan dengan kenaikan omzet sekitar 15%-20% dari tahun ini yang diperkirakan menembus US$6 juta.
manda
manda - Bisnis.com 29 Desember 2010  |  09:44 WIB

JAKARTA: Pasar mainan edukatif dan tradisional buatan lokal pada tahun depan diproyeksi tumbuh signifikan dengan kenaikan omzet sekitar 15%-20% dari tahun ini yang diperkirakan menembus US$6 juta.

Ketua Umum Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (Apmenti) Dhanang Sasongko mengatakan pada 2011, pasar mainan nasional akan mengalami peningkatan yang luar biasa, dipicu oleh jumlah lembaga pendidikan di Indonesia yang terus bertambah.

Jumlah lembaga pendidikan di Indonesia akan bertambah sehingga kebutuhan mainannya akan meningkat. Tahun ini, omzet mainan edukatif dan tradisional diprediksi naik sebesar 2%-3% dari tahun sebelumnya, kata Dhanang, hari ini.

Menurut Dhanang, dari proyeksi omzet sebesar US$6 juta tahun ini, sebanyak 40% nya merupakan produk mainan edukatif. Pada tahun depan, omzet mainan edukatif diproyeksi meningkat sebesar 20%.

Dhanang menambahkan, untuk harga mainan, akan mengalami kenaikan sekitar 5% pada tahun depan. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh bahan baku yang sulit didapatkan, kenaikan BBM, dan juga standar upah minimum regional (UMR).

Terkait implementasi perdagangan bebas Asean-China (ACFTA), Dhanang menjelaskan jumlah impor mainan ilegal dari China justru mengalami penurunan. Pasalnya, produsen mainan asal China lebih memilih untuk memasarkan produknya di Indonesia secara legal.

Laporan dari pihak pelabuhan menyebutkan impor mainan ilegal ternyata turun. Produsen China kena pungutan liar yang besar sekali disini. Jadi mereka sekarang hati-hati. Sehingga, saat ini produsen dalam negeri memanfaatkan kondisi tersebut dengan menggenjot produksi, ungkapnya.

Menurut Dhanang, sebelum ACFTA diimplementasikan, impor mainan ilegal naik sebesar 40%. Pada tahun ini, impor mainan yang masuk secara legal hanya naik sebesar 5%.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengatakan untuk meredam lonjakan impor mainan ilegal, pihaknya telah mengimbau kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menerapkan safeguard guna melindungi pasar dalam negeri.

Kita sudah membuat catatan itu ke Kemendag. Dan juga barang konsumsi yang kami anggap kualitasnya di bawah standar, kami tengah melakukan kajian dan sedang memberikan rekomendasi untuk itu. Sekarang Kemendag sedang lakukan kegiatan sidak (inspeksi mendadak), itu juga hasilrekomendasi kami, ujar Hidayat.

Lebih lanjut Dhanang menegaskan, ada beberapa hal yang masih menghambat pertumbuhan omzet mainan pada tahun depan. Pertama, masih sulitnya akses pembiayaan ke perbankan. Kalangan perbankan meminta jaminan tertentu kepada produsen mainan, dan ini sulit untuk dipenuhi.

Perbankan bilang tidak sulit mendapatkan pembiayaan terutama untuk usaha kecil. Tapi, kenyataannya di lapangan berbeda. Masih ada masalah di birokrasi, jadi hanya pelaku usaha yang berada di bawah binaan kementerian tertentu yang mudah mendapatkan pembiayaan. Birokrasi tidak terbuka. Para anggota mengeluhkan hal ini, ungkap Dhanang.

Selain itu, lanjut Dhanang, masalah penerapan standard nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk mainan juga masih menghambat pada tahun depan. Untuk penerapan SNI wajib, ujar Dhanang, membutuhkan koordinasi yang baik antar kementerian, seperti Kemendiknas dan Kemenperin.

Dia mengharapkan pemerintah bisa membantu untuk mendorong pertumbuhan industri mainan nasional dengan memberikan stimulus, dukungan terhadap suplai bahan baku, sosialisasi, dan promosi, serta menyediakan area pengembangan industri mainan di daerah. Hal ini setidaknya yang diberikan oleh pemerintah China kepada industri mainan di negara tersebut.

Pemerintah juga harus menjamin adanya pasokan listrik. Untuk satu line produksi, kami membutuhkan sekitar 11.000 watt listrik. Kami kesulitan mendapatkan pasokan listrik, tandasnya.(msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top