Pabrik butadiene kurangi ketergantungan impor

manda
manda - Bisnis.com 27 Desember 2010  |  11:15 WIB

JAKARTA : Pembangunan pabrik butadiene oleh PT Petrokimia Butadiene Indonesia (PBI) diyakini mampu mengurangi ketergantungan impor bahan baku ban nasional dan memperkuat industri petrokimia dan ban di dalam negeri seiring terciptanya hilirisasi industri.

PBI yang merupakan anak perusahaan PT Chandra Asri segera memulai pembangunan pabrik butadiene di Cilegon, Banten, dengan menyiapkan investasi sebesar US$100 juta. Pabrik tersebut direncanakan memiliki kapasitas 100.000 ton per tahun.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI) A.Azis Pane mengatakan asosiasi mendukung dan siap membantu terealisasinya pembangunan pabrik butadiene di Indonesia.

Adanya pabrik butadiene ini diyakini akan mengurangi ketergantungan industri ban di dalam negeri terhadap impor bahan baku ban. Selama ini, para produsen ban di dalam negeri masih mengimpor butadiene dari negara Korea Selatan, Taiwan dan China.

Kita dukung dan akan kita bantu. Industri karet nasional tidak akan maju kalau tidak ada industri pendukungnya, termasuk butadiene. Kami juga mengimbau agar investor lain menanamkan investasi di bidang bahan baku ban, agar industri hilir maju sesuai harapan pak menteri [Menteri Perindustrian M.S Hidayat], katanya, hari ini.

Butadiene merupakan bahan campuran untuk membuat karet sintetis yang selanjutnya menjadi komponen untuk membuat ban, baik ban dalam maupun luar. Kendati tidak dapat memastikan volume impor butadiene secara nasional, Azis meyakini tren impor bahan baku ini terus bergerak naik seiring produksi dan pasar ban yang berkembang.

Kalau bisa kami juga mengharapkan ada investasi untuk bahan baku ban lainnya seperti rubber chemical, carbon black hingga bed wire di dalam negeri. Selama ini kami masih mengimpor bahan baku tersebut. Bahkan kami mendorong kalau bisa PT Krakatau Steel (KS) untuk memproduksi bed wire, tegasnya.

Dukungan atas masuknya investasi di sektor petrokimia ini juga disampaikan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Adanya investasi pabrik butadiene diprediksi bisa membangkitkan sektor industri hilir di Indonesia sehingga memperkuat struktur industri nasional dan memberi nilai tambah.

"Ini hal positif bagi sektor industri ban nasional. Karena kalau kebutuhan butadiene yang selama ini diimpor bisa dipenuhi dari dalam negeri tentunya biaya produksi bisa ditekan, bisa menghemat devisa, selain itu industri yang baru itu juga akan menyerap tenaga kerja yang besar dari dalam negeri," kata Direktur Industri Kimia Dasar Kemenperin Toni F. Tanduk.

Menurut Toni, terobosan investasi yang dilakukan Chandra Asri katersebut patut didukung karena bisa meningkatkan daya saing sektor industri hilir yakni industri ban nasional.

"Harapan kami ke depan akan semakin banyak investasi-investasi semacam ini, agar sektor industri hilir kita juga memiliki daya saing serta bisa mengurangi ketergantungan pasokan bahan baku dari impor.

Direktur PBI Suhat Miyarso sebelumnya mengatakan perusahaan telah mendapat lisensi dari BASF untuk memproduksi butadiene pertama di Tanah Air. Seluruh biaya investasi tersebut bersumber dari dana internal Chandra Asri dan saat ini perusahaan tengah menyiapkan proses bidding untuk menentukan kontraktor pelaksana pembangunan pabrik (EPC).

Berlokasi di komplek pabrik Chandra Asri di Cilegon, perusahaan telah menyediakan lahan seluas 40.00 meter persegi. Suhat menjelaskan PBI telah mengirim surat undangan kepada bidder dari Korea, Jepang, dan Italia untuk mengajukan penawaran dengan batas waktu Maret 2011.

Diharapkan, pada Mei 2011, kontraktor pelaksana sudah dapat diumumkan dan selanjutnya ground breaking pembangunan pabrik ditargetkan pada Juni 2011. Proses pembangunan pabrik diperkirakan memakan waktu dua tahun, sehingga operasional pabrik diprediksi pada kuartal II/2013.

Suhat menjelaskan, butadiene dapat diolah lebih lanjut menjadi SBR (Styrene Butadiene Rubber), ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene), SBL (Styrene Butadiene Latex), dan lain-lain. SBR dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan karet sintetis yang merupakan komponen untuk industri ban kendaraan.

Dia mengungkapkan seiring pertumbuhan industri otomotif di Indonesia yang terus menanjak, kebutuhan ban semakin tinggi. Suhat menjelaskan, seluruh produksi butadiene akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan selebihnya akan diekspor.

Melalui kehadiran PBI, lanjut Suhat, produsen ban nasional dapat memangkas biaya impor butadiene, sehingga dapat meningkatkan skala produksi ban nasional. Dengan demikian, beroperasinya pabrik butadiene tersebut diharapkan dapat memperkuat industri petrokimia dan otomotif dalam negeri menjadi lebih maju dan terus berkembang.

Dengan tersedianya butadiene di dalam negeri, maka berbagai biaya produksi ban dapat dipangkas, sehingga industri ban nasional mempunyai kesempatan untuk tumbuh berkembang lebih cepat lagi dalam beberapa tahun mendatang, ungkapnya.

Produksi ban mobil pada 2010 diperkirakan mencapai 41 juta unit dari kapasitas terpasang sebesar 43 juta unit per tahun, sedangkan produksi ban kendaraan roda dua diperkirakan mencapai 27 juta unit dari kapasitas terpasang sebesar 33 juta unit per tahun.

Tahun ini, industri ban nasional terus bergerak naik seiring dengan penjualan produk otomotif yang bergairah dan permintaan pasar ekspor yang menguat. Penjualan ban untuk produksi mobil baru (original equipment/OE) hingga November tahun ini naik drastis.

Berdasarkan data terbaru yang dilansir APBI, penjualan ban mobil penumpang (PCR) jenis OE tahun ini naik 51,6% dibandingkan dengan tahun lalu. Sementara penjualan ban besar (Bias) melonjak 73%. Sampai November, volume penjualan ban PCR sebanyak 2.674.261 unit dan 975.265 unit ban biasa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top