Harga beras pemicu utama inflasi

JAKARTA : Badan Pusat Statistik memperkirakan laju inflasi tahun ini bisa menembus 7% seiring dengan meningkatnya tekanan dari harga beras yang akan terus berlangsung dalam 18 bulan ke depan.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 26 Desember 2010  |  06:14 WIB

JAKARTA : Badan Pusat Statistik memperkirakan laju inflasi tahun ini bisa menembus 7% seiring dengan meningkatnya tekanan dari harga beras yang akan terus berlangsung dalam 18 bulan ke depan.

Rusman Heriawan, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), menuturkan anomali iklim menyebabkan produksi beras di beberapa negara utama mengalami terkoreksi cukup signifikan. Dampaknya, harga beras diperkirakan masih mengalami tren kenaikan dalam waktu dekat.

"Dalam 18 bulan ke depan, menurut Vietnam Food Association, harga beras akan bisa dua kali lipat. Hal itu tentu menjadi sesuatu yang kurang menggembirakan bagi ekonomi perberasan kita," ujar dia, pekan lalu.

Tekanan inflasi tersebut, jelas Rusman, mulai terlihat pada penghujung tahun ini. Hal tersebut menjadi salah satu pemicu melonjaknya inflasi tahunan melampaui ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia.

Yang pasti di atas 6%. Sekarang kita bicara dalam kisaran 6-7%, tetapi mudah-mudahan bisa 6,5%, katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi lebih sulit karena impor beras untuk stabilisasi harga tidak akan mudah. Pasalnya, negara-negara eksportir beras, seperti Vietnam dan Thailand, berencana menghentikan ekspornya guna memperkuat cadangan beras dalam negeri.

"Kalau ingin menstabilkan harga beras dengan impor, maka itu pun akan sulit. Negara-negara utama eksportir beras seperti Vietnam dan Thailand ingin memperkuat cadangan mereka," paparnya.

Kondisi tersebut, lanjut Rusman, akan memberi tekanan inflasi yang cukup signifikan pada 2011. Karenanya, dibutuhkan upaya yang luar biasa untuk menjaga inflasi 2011 di bawah 6%.

"Banyak pihak menyatakan bahwa seharusnya asumsi inflasi 2011 lebih tinggi dibandingkan 2010, dengan pertimbangan harga bahan pokok. Hampir semua naik, seiring dengan pemulihan ekonomi dunia," tegasnya.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wijaya Adi menambahkan beras merupakan komoditas yang sangat memengaruhi pembentukan inflasi.

Selama ini, kontribusi beras terhadap inflasi di kelompok bahan makanan sekitar 60%. Oleh karena itu, kalau terjadi gejolak harga maka pengaruhnya sudah 60%," kata dia.

Dia menilai stabilitas harga beras menjadi sangat penting namun faktor anomali iklim menyebabkan produk beras tahun depan tidak dapat diprediksi dengan akurat. Tidak ada yang bisa menjamin apakah pada 2011 panen akan lebih baik. Sekarang iklim sudah bergeser, jangan-jangan 2011 bisa kemarau panjang," katanya.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top