Mentan: Perubahan iklim ekstrim rusak panen hortikultura

JAKARTA: Mentan Suswono mengatakan perubahan iklim secara ekstrim tidak hanya mengganggu produksi beras, tapi juga hortikultura dan palawija, sehingga memicu kenaikan inflasi nasional.
News Editor | 24 Desember 2010 07:38 WIB

JAKARTA: Mentan Suswono mengatakan perubahan iklim secara ekstrim tidak hanya mengganggu produksi beras, tapi juga hortikultura dan palawija, sehingga memicu kenaikan inflasi nasional.

"Beberapa produk misalnya seperti hortikultura dan palawija sebagian akhirnya hancur dan rusak. Contoh yang terjadi pada kasus cabe dan bawang," katanya di Istana Presiden, hari ini.Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah akan mengantisipasi dengan pengembangan tanaman menggunakan sedinet atau parit yang lebih dalam untuk mencegah rendaman air.Hal itu, tuturnya, bisa dilakukan untuk tanaman seperti cabe dan bawang yang selama ini rentan dengan tingkat kelembaban tanah.Selain itu, menurut Suswono, koordinasi dengan BMKG terus dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang perkembangan iklim yang kini makin tidak menentu di hampir seluruh daerah di Tanah Air."Tadinya BMKG memperkirakan April sudah mulai musim kering. Hujan sudah berhenti, tapi ternyata faktanya sekarang masih berjalan," ujarnya.Terkait dengan harga produk pertanian yang terus melonjak termasuk beras dan cabe, ungkapnya, hal itu lebih kepada permainan pedagang di tataran tata niaga produk di pasar.Hal itu, lanjutnya, terbukti dari pasokan beras ke pasar induk Cipinang yang tetap lancar, tapi harga membubung tinggi."Saat kami sidak dengan Menko tadi pagi lebih dari 2.000 ton per hari masuk pada bulan ini. Anda bisa cek di sana. Bahkan kalau Senin bisa mencapai 3.000-an ton. Ini kan menunjukkan barang ini ada, kalo persoalannya dikaitkan dengan harga, ini kan berkaitan dengan tata niaga," katanya lagi.(er)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top