Pemenang tender 10.000 MW wajib pakai produk lokal

TANJUNG BALAI KARIMUN: Kementerian Perindustrian menginstruksikan pemenang tender megaproyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 10.000 megawatt (MW) tahap II memprioritaskan penggunaan produk dan jasa lokal untuk mendukung pertumbuhan industri nasional.
manda | 22 Desember 2010 08:19 WIB

TANJUNG BALAI KARIMUN: Kementerian Perindustrian menginstruksikan pemenang tender megaproyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 10.000 megawatt (MW) tahap II memprioritaskan penggunaan produk dan jasa lokal untuk mendukung pertumbuhan industri nasional. Hingga saat ini, keberpihakan terhadap produk dan jasa lokal dalam megaproyek PLTU 10.000 MW dinilai masih rendah. Dalam pelaksanaan pembangunan PLTU 10.000 MW tahap I, keterlibatan pelaku industri nasional di sektor ketenagalistrikkan dalam megaproyek tersebut ternyata masih sangat minim.

Di sisi lain, hampir seluruh perusahaan jasa konstruksi terintegrasi (Engineering, Procurement and Construction/EPC) yang menjadi pemenang tender masih berorientasi pada penggunaan mesin-mesin dan komponen kelistrikan yang umumnya diimpor dari China.

Untuk memacu penerapan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) di sektor ketenagalistrikan, Kemenperin telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 48/M-IND/PER/4/2010 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri Untuk Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

Dalam ketentuan ini dinyatakan bahwa setiap pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan untuk kepentingan umum wajib menggunakan barang dan atau jasa produksi dalam negeri.

Untuk sasaran pembangunan industri 2011-2012 yang menjadi prioritas kami adalah pembangunan industri di sektor permesinan dan perkapalan. Khusus di industri permesinan juga termasuk sektor industri alat kelistrikan yang menunjang pembangunan infrastruktur ketenagalistrikkan nasional, kata Direktur Mesin dan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) Kemenperin, C. Triharso, hari ini.

Triharso mengatakan megaproyek 10.000 MW baik tahap I maupun tahap II--yang proses tendernya sudah hampir rampung-- diharapkan bisa mendorong pertumbuhan sektor industri alat kelistrikan di dalam negeri. Namun, hingga kini potensi yang dimiliki oleh industri nasional ternyata tidak manfaatkan secara maksimal.

Beberapa produk lokal perangkat kelistrikan yang diandalkan untuk mendukung pembangunan PLTU, di antaranya boiler (PT Dinamika Energitama Nusantara), trafo hingga 500 KV (PT CG Power System Indonesia), turbin (PT Siemens Indonesia) dan tower (PT Kurnia Berca).

Ketua Working Group Boiler Indonesia yang juga Presiden Direktur PT Dinamika Energitama Nusantara (DEN), produsen boiler nasional, Mugi Rahardjo mengatakan dari total kapasitas terpasang nasional di industri boiler sebesar 1.500 MW, tetapi penyerapan untuk megaproyek 10.000 MW tahap I masih di bawah 100 MW, atau kurang dari 1%.

Harapan kami pada pelaksanaan tahap II nanti penyerapan produk dalam negeri bisa mencapai 10%-25%, sehingga potensi industri dalam negeri yang ada tidak sia-sia dan industri pendukungnya dapat lebih berkembang, katanya, di sela-sela kunjungan ke PLTU Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau berkapasitas 2x7 MW.

Total kapasitas terpasang industri boiler sebesar 1.500 MW tersebut disumbangkan oleh 9 produsen lokal, termasuk di antaranya Alstom dan DEN. Mugi mempertanyakan alasan perusahaan-perusahaan EPC pemenang tender yang lebih memilih produk-produk impor ketimbang menggunakan produk dalam negeri. Padahal, tegas Mugi, produk yang telah dihasilkan industri di dalam negeri dari segi kualitas jauh lebih baik dan mampu bersaing, ketimbang produk-produk impor asal China.

Kalau dibilang produk kita lebih mahal dari produk China itu tidak benar. Justru produk yang kita yang produksi di dalam negeri ini lebih murah 10%. Bahkan kalau dibandingkan dengan produk yang mutu dan spesifikasi yang sama dengan produk buatan Jepang ataupun Jerman, harga produk kita masih lebih murah 50%, tukasnya.

Menurut Mugi, parameter yang dijadikan pembanding antara produk boiler buatan lokal dengan produk impor asal China, selama ini bukan pada mutu dan spesifikasi produk tetapi lebih pada harga jual akhir. Dia berharap adanya Permenperin No.48/2010 akan semakin meningkatkan penyerapan P3DN dalam pengerjaan megaproyek 10.000 MW tahap II.

Dalam kesempatan sama, Harry Fardiman, Project Manager PLTU Kepulauan Riau PT Rekadaya Elektrika mengatakan tingkat penggunaan produk dalam negeri (TKDN) pada pembangkit kapasitas 2x7 MW ini telah mencapai 65%. Untuk pengerjaan sipil telah mencapai TKDN 100% dan kelistrikan sebesar 82%.

Hampir semua menggunakan produk lokal, mulai dari bagian coal handling, pompa, trafo dan boiler. Untuk boiler ini kami bekerjasama dengan PT DEN. Hanya turbin dan generator yang masih impor, katanya.

Rekadaya selaku EPC PLTU Kepulauan Riau menargetkan pembangkit listrik dengan nilai kontrak US$17,5 juta ini dapat diuji coba pengoperasiannya pada Januari dan mulai menyalurkan pasokan listrik pada April mendatang. Selain membangun PLTU Kepulauan Riau, Rekadaya saat ini juga mengerjakan PLTU skala kecil lainnya di Ende dan Tidore yang merupakan bagian crash program tahap I.

Lebih lanjut, Mugi menegaskan kendati penyerapan dari pasar domestik masih rendah, perusahaan bersiap melakukan ekspansi pabrik pada 2011. Nilai investasi yang ditanamkan sekitar Rp25 miliar untuk menambah kapasitas pabrik sebesar 300 MW per tahun, dari saat ini sebesar 100 MW.

Kami membutuhkan waktu 6- 12 bulan untuk pembangunan fisik, saat ini kita sedang menyelesaikan administrasi perizinan. Pembangunan pabrik dilakukan di daerah Krian, Surabaya.

Ini sebagai antisipasi meningkatnya kebutuha boiler yang diperkirakan melonjak dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan data PT PLN (Persero), produksi energi listrik pada 2011 diprediksikan mencapai 3.053 GWh dengan rata-rata pertumbuhan setiap tahunnya sebesar 9,7%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top