Target investasi migas dekati US$15 miliar

JAKARTA: Pemerintah menargetkan tahun depan investasi minyak dan gas (migas) bisa mencapai US$14,9 miliar atau mendekati target 2010 sebesar US$15 miliar yang sebagian besar ditujukan untuk sektor hulu migas.Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi
Tiara Syahra Syabani | 22 Desember 2010 12:05 WIB

JAKARTA: Pemerintah menargetkan tahun depan investasi minyak dan gas (migas) bisa mencapai US$14,9 miliar atau mendekati target 2010 sebesar US$15 miliar yang sebagian besar ditujukan untuk sektor hulu migas.Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita H. Legowo mengatakan target investasi 2011 itu terdiri dari hulu US$13 miliar dan hilir US$1,9 miliar. Dia optimistis bisa mencapai target investasi 2011 dengan beberapa perencanaan yang sudah disiapkan serta dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian secara keseluruhan. "Tantangan lain adalah permintaan pemanfaatan gas domestik yang semakin besar. Implementasi peningkatan pemanfaatan gas untuk transportasi, serta pengaturan BBM bersubsidi," ujar Evita dalam seminar energy and mining editor society bertajuk Outlook Energy & Mining 2011, hari ini.Hingga September 2010, kata dia, investasi migas sudah mencapai US$7,9 miliar. Angka itu terdiri atas investasi dari sektor hulu sebesar US$7,5 miliar dan sektor hilir sebesar US$400 juta. Evita menyebutkan tantangan industri migas pada 2011 antara lain target produksi minyak yang sebesar 970.000 barrel oil per day (BOPD) atau naik 5.000 BOPD dari target tahun ini. Selain itu, kendala lainnya adalah kapasitas infrastruktur migas yang terbatas. Menurut dia, pemerintah juga sudah menyiapkan strategi peningkatan produksi minyak tahun depan dengan cara mengoptimasi lapangan-lapangan eksisting untuk menahan laju penurunan produksi. Upaya ini termasuk pengembangan lapangan baru termasuk put on production sumur temuan eksplorasi. "Tahun depan target lifting sebesar 970.000 BOPD. Kami berharap penyumbang terbesar masih dari Chevron sekitar 370.000 BOPD." Terkait dengan pembangunan infrastruktur gas bumi, kata Evita, pemerintah juga akan membangun tiga lokasi LNG Receiving Terminal antara lain Floating Storage & Regasification Unit (FSRU) di Jawa Barat oleh PT Nusantara Regas (joint venture antara PT Pertamina dengan PT PGN Tbk) dengan kapasitas 3 MTPA yang target operasinya 2011. "Izinnya sudah ada untuk itu."Kemudian FSRU oleh PGN dengan kapasitas 1,5 MTPA -2 MTPA di Sumatra Bagian Utara yang target operasinya akhir 2011. Evita mengungkapkan untuk FSRU tersebut, targetnya kemungkinan mundur karena saat ini masih dalam tahap evaluasi. "FSRU juga akan dibangun di Jawa Timur atau Jawa Tengah yang dilaksanakan oleh Pertamina dengan kapasitas 3 MTPA. Akan tetapi, keputusannya masih Maret 2011, sehingga target operasinya pada 2013." Pemerintah juga punya rencana untuk memanfaatkan dimethyl ether sebagai substitusi LPG untuk menjaga pasokan pasokan LPG domestic. Adapun proyek dimethyl ether di Indonesia antara lain akan dikerjakan PT Arrtu Mega Energy. Evita menyebutkan pada fase I, dimethyl ether plant dengan feedstock methanol akan berlokasi di Cilegon dan Gresik dengan kapasitas masing-masing 400.000 ton per tahun yang akan dimulai November 2011 dan Maret 2014. Sementara itu, fase II Methanol Plant dengan feedstock batu bara di Peranap, Sumatra, dengan kapasitas 1,7 juta ton per tahun akan start up November 2014.Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto menilai target produksi migas 2011 berpotensi tidak akan tercapai akibat sejumlah kendala antara lain tumpang tindih sektor, penarapan asas cabotage, serta keterbatasan kilang pengolahan BBM di dalam negeri. "Setiap penurunan produksi minyak sebesar 10.000 barel per hari menyebabkan penerimaan negara turun Rp3 triliun-Rp3,34 triliun. Jika tidak asas cabotage tidak direvisi maka potensi penurunannya bisa mencapai 225.000 BOPD," ujar Dito. Deputi Menko Perekonomian Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kehutanan, Wimpy S Tjetjep, yang mewakili Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, mengatakan penerapan asas cabotage di sektor perminyakan menjadi prioritas pemerintah untuk segera selesai."Ada potensi besar yang belum digali yaitu unconventional hydrocarbon yang terdiri dari Coal Bed Metane, underground coal gassification, shale gas, dan lain-lain. Potensi ini akan disiapkan regulasinya sehingga dapat digarap di Indonesia," ujarnya. (aph)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top