Pengeboran CBM Ephindo terganggu aturan kehutanan

JAKARTA: Operasi PT Energi Pasir Hitam Indonesia (Ephindo) di sektor gas metana batu bara atau coal-bed methane (CBM) terganjal aturan terkait kehutanan menyusul wilayah kerja perusahaan yang mayoritas di kawasan hutan.
News Editor | 22 Desember 2010 08:13 WIB

JAKARTA: Operasi PT Energi Pasir Hitam Indonesia (Ephindo) di sektor gas metana batu bara atau coal-bed methane (CBM) terganjal aturan terkait kehutanan menyusul wilayah kerja perusahaan yang mayoritas di kawasan hutan.

Akibatnya, dari target pengeboran delapan sumur CBM tahun ini, Ephindo hanya mampu merealisasikan pengeboran di tiga sumur saja.

Presiden Direktur Ephindo Sammy Hamzah mengakui sejumlah aturan kehutanan menghambat operasi kerja perusahaan ini. "Dari delapan sumur, kami hanya bisa melakukan pengeboran tiga sumur saja," ujarnya di seminat Outlook Energy and Mining 2011 siang ini.

Sammy menyebutkan perusahaan memiliki tiga blok wilayah kerja di Kalimantan dan Sumatra yang seharusnya siap dibor.

"Saya tidak mengerti persis benturan aturannya. Yang pasti kalau dibandingkan dengan perusahaan pertambangan batu bara, CBM itu tidak lebih banyak merusak permukaan hutan," tukasnya.

Tahun lalu, Ephindo diketahui menargetkan pengeboran di tujuh sumur eksplorasi CBM. "Lokasi ketujuh sumur itu berada di tiga blok yang kami kelola, yaitu Kutai dan Sangatta I di Kalimantan Timur dan Sekayu di Sumatera Selatan," ujar Sammy Hamzah

Saat itu, dia memperhitungkan pengeboran di tujuh sumur tersebut akan menyedot dana tak kurang dari US$5,6 juta.

Ephindo sendiri bersama dengan mitranya PT Medco Energi Internasional Tbk diketahui telah menyelesaikan pengeboran satu sumur di blok CBM Sekayu. Namun, blok CBM Sekayu kemungkinan baru akan berproduksi pada 2013.

Perusahaan ini merupakan pengembang CBM di Indonesia yang pertama kali beroperasi. Dalam operasinya, Ephindo diketahui merangkul Mc Larren Resources Inc dan PT Medco Energi Internasional Tbk di Blok Sekayu dan Sangatta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top