TKI bawa pulang anak melonjak

JAKARTA: Jumlah anak dari tenaga kerja Indonesia yang dibawa pulang seusai bekerja di luar negeri dalam 2 tahun terakhir melonjak 273,7% dari 19 orang pekerja pada 2009 menjadi 71 orang TKI yang membawa anak.
Ria Indhryani
Ria Indhryani - Bisnis.com 22 Desember 2010  |  13:20 WIB

JAKARTA: Jumlah anak dari tenaga kerja Indonesia yang dibawa pulang seusai bekerja di luar negeri dalam 2 tahun terakhir melonjak 273,7% dari 19 orang pekerja pada 2009 menjadi 71 orang TKI yang membawa anak.

Sementara itu, jumlah TKI yang hamil setelah kembali ke Tanah Air juga bertambah 8,1% dari 197 orang pada tahun lalu menjadi 213 orang TKI wanita yang hamil pada 2010.Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh. Jumhur Hidayat mengatakan jumlah tersebut dikhawatirkan terus bertambah apabila para TKI tidak dibekali dengan keterampilan dan kekuatan mental.Apalagi, lanjutnya, masih relatif banyak TKI wanita yang terpaksa membawa anak dari hubungan gelap sejak di Tanah Air dan saat bekerja di luar negeri, karena paksaan dengan para majikan, oknum di penampungan TKI atau kekasih mereka selama kerja.Antisipasi dini harus dilakukan sebelum para TKI wanita itu berangkat kerja ke luar negeri, baik dalam bentuk pemberian keterampilan yang memadai dan juga berbagai informasi pendukung selama mereka bekerja, katanya, hari ini.Jumhur menuturkan dalam 4 hari sekali, seorang TKI yang baru pulang melalui Gedung Pendataan Kepulangan (GPK) TKI di Selapajang Tangerang, Banten, membawa anak hasil hubungan gelap di tempat kerjanya.Selain itu, dia menambahkan dalam dua hari sekali selalu ada TKI yang pulang ke Tanah Air melalui GPK TKI dalam keadaaan berbadan dua alias hamil tanpa menikah.Saat ini, Rumah Peduli Anak (RPA) TKI yang berada di dekat GPK Selapajang mengasuh lebih dari 10 bayi yang ditinggalkan para TKI bermasalah.Jumhur memaparkan bagi TKI yang pulang sudah membawa anak dari tempat dia bekerja tidak semuanya mau membawa anaknya ke tempat tinggal mereka di kampung halaman.Bahkan, ada TKI yang menitipkan anak hasil hubungan gelapnya di tempat mereka di panti asuhan atau sanak saudaranya dan ada yang sengaja meninggalkannya begitu saja di GPK TKI di Selapajang.Melihat kondisi itu, maka pemerintah harus mengupayakan penyelesaiannya dengan pelatihan dan mempersiapkan calon TKI, serta membuat tempat penampungan bagi anak-anak TKI yang ditinggalkan ibunya, tutur Jumhur.RPA TKI akhirnya bekerja sama dengan Yayasan Puri Cikeas dan Gerakan Nasional Kesejahteraan Sosial untuk mengumpulkan dana sekitar Rp15 miliar guna membangun rumah penampungan yang memadai.Menurut Ketua RPA TKI Soeryo Poetranto, dana sebanyak itu akan dipergunakan untuk membangun RPA TKI di Kecamatan Benda, Tangerang agar anak-anak yang ditinggalkan oleh para pekerja bermasalah setelah bekerja di luar negeri dapat tempat yang baik.Dia menjelaskan dana tersebut akan digunakan untuk pembebasan lahan dan mendirikan bangunan rumah sederhana disesuaikan dengan sarana pembentukan karakter anak.Untuk merealisasikan perolehan dana itu, RPA TKI menggelar acara Malam Berbagi Untuk Anak Negeri guna mengumpulkan dana bagi pendirian RPA TKI dengan menampilkan Dewi Yull dan Rithim Dance agar pendirian rumah penampungan di atas tanah seluas 1.000 meter persegi di kawasan Cikeas Nagrak Gunung Putri, Bogor itu dapat direalisasikan.Kepada masyarakat yang ingin memberikan donasinya untuk pembangunan RPA TKI dapat juga menyalurkannnya melalui rekening atas nama Yayasan Kepedulian Sosial Puri Cikeas, tuturnya. (mfm)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top