RI bebas dari tuduhan praktik dumping kaca di Australia

JAKARTA: Produk kaca (certain clear float glass) asal Indonesia tidak terbukti melakukan praktik dumping harga di pasar Australia, sehingga terbebas dari ancaman pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) ke negara itu.
Hilman Hidayat
Hilman Hidayat - Bisnis.com 22 Desember 2010  |  05:07 WIB

JAKARTA: Produk kaca (certain clear float glass) asal Indonesia tidak terbukti melakukan praktik dumping harga di pasar Australia, sehingga terbebas dari ancaman pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) ke negara itu.

Direktur Pengamanan Perdagangan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Ernawati mengungkapkan Otoritas Anti Dumping (OAD) Australia telah menghentikan penyelidikan anti dumping terhadap produk kaca asal sejumlah negara tertuduh, yakni Indonesia, China, dan Thailand, pada 20 Desember 2010.

Keputusan ini dilakukan menyusul hasil penyelidikan yang dimulai sejak 19 April 2010 yang menyatakan tidak ditemukannya kerugian (injury) terhadap industri dalam negeri Australia karena pengaruh masuknya produk kaca dari negara lain.

Dengan dihentikannya kasus tersebut, kata Ernawati, perusahaan atau eksportir Indonesia berpeluang mengisi dan merebut kembali pasar ekspor produk kaca di Australia.

Tuduhan mereka bahwa kita menerapkan praktik dumping harga tidak terbukti. Jadi kita bisa menguasai kembali pasar ekspor di negara itu, ujar Ernawati, hari ini.

Kasus ini bermula dari inisiasi dumping yang diajukan oleh CSR Viridian Limited (Viridian). Viridian mengklaim dirinya sebagai pabrik tunggal produk tersebut di Australia. Pangsa pasar impor produk Indonesia ditengarai menguasai 25% di pasar Australia dan telah menimbulkan kerugian bagi industri float glass di pasar domestiknya.

Adapun produk yang dituduh ini adalah produk certain clear float glass dengan nominal ketebalan 3-12 milimeter. Saat ini, terdapat tiga perusahaan float glass di dalam negeri, yakni PT Asahimas Flat Glass Tbk, PT Mulia Glass, dan PT Tossa Shakti.

Menurut data comtrade, nilai ekspor produk certain clear float glass Indonesia ke Australia pada 2008 tercatat sebesar US$10,6 juta, atau memiliki pangsa pasar tertinggi sebesar 27,4%, disusul oleh produk asal china 24%, dan Thailand 16%.

Namun, pada 2009 ekspor Indonesia ke Australia turun menjadi US$6,1 juta dengan pangsa pasar di posisi kedua sebesar 21%. Pangsa pasar China justru melonjak hingga 24%, sementara Thailand tetap di posisi ketiga sebesar 15%.

Upaya pembelaan

Ernawati menjelaskan penghentian kasus dumping tersebut tidak terlepas dari upaya pembelaan bersama antara Direktorat Pengamanan Perdagangan dengan perusahaan tertuduh.

Pada 27 Mei 2010, jelas dia, pemerintah menyampaikan bantahan kepada OAD Australia yang a.l. berisi penjelasan mengenai kinerja industri petisioner yang cukup baik dan tidak menunjukkan kerugian atau mengalami ancaman kerugian yang serius.

Sedari awal, alasan OAD untuk melakukan penyelidikan dumping terhadap produk Indonesia tidak cukup beralasan, karena masuknya produk kita ke negara itu jelas tidak mengancam industri dalam negeri, tuturnya.

Kendati demikian, pada 5 November 2010, OAD Australia mengeluarkan Statement of Essential Fact Nomor 159 yang berisi hasil penyelidikan anti dumping terhadap produk certain clear float glass, di mana disampaikan bahwa margin dumping perusahaan Indonesia sebesar 3,3% - 30,3%.

Margin dumping tersebut sangat besar sehingga Indonesia kembali menyampaikan masukan dan komentar pada akhir November.

Sejak awal, jelas Ernawati, pihaknya lebih menekankan pada kinerja industri dalam negeri di Australia yang positif.

Selain Australia, negara tujuan ekspor clear float glass Indonesia yaitu ke Korea Selatan, Thailand, Singapura dan Malaysia.(er)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top