Pengusaha elektronik minta non tariff barrier

JAKARTA: Kendati dinilai belum berdampak negatif pada industri dalam negeri, kalangan pelaku usaha mendesak pemerintah untuk menerapkan non tariff barrier yang dapat menekan masuknya produk impor dan sebaliknya mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.Ketua
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 21 Desember 2010  |  10:47 WIB

JAKARTA: Kendati dinilai belum berdampak negatif pada industri dalam negeri, kalangan pelaku usaha mendesak pemerintah untuk menerapkan non tariff barrier yang dapat menekan masuknya produk impor dan sebaliknya mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.Ketua Gabungan Elektronik (Gabel) Ali Soebroto Oentaryo mengungkapkan produk elektronika impor dari luar negeri kian membanjiri pasar dalam negeri. Dia mengakui hingga saat ini, banjir impor produk tersebut memang belum berdampak negatif bagi industri dalam negeri. Pasalnya, menurut dia, Indonesia tidak memproduksi sejumlah produk elektronika sehingga wajar saja jika impor jenis elektronika tertentu mengalami kenaikan apalagi seiring dengan pertumbuhan konsumsi elektronik yang juga terus meningkat.Namun, Ali menilai tingginya permintaan konsumen terhadap barang impor yang dilihat dari besarnya pertumbuhan nilai impor setiap bulan, seharusnya menjadi peluang bagi pemerintah untuk menggairahkan industri dalam negeri. Pemerintah, tegasnya, harus memanfaatkan kesempatan itu dengan menciptakan kebijakan yang dapat mendorong terciptanya industri elektronika baru di Tanah Air dan menarik investasi ke dalam negeri terutama untuk jenis-jenis produk yang mencatat permintaan tertinggi. Dia mengatakan saat ini tidak ada lagi hambatan tarif untuk impor produk elektronika sehingga barang impor dengan mudahnya membanjiri pasar dalam negeri. Pembebasan tarif menyebabkan pelaku usaha lebih memilih melakukan impor barang jadi daripada memproduksi dalam negeri. Kondisi ini, kata dia, menyebabkan pasar produk elektronika di Tanah Air justru dikuasai oleh produk-produk impor bukan produk domestik. Oleh karena itu, Ali mengusulkan pemerintah menerapkan hambatan non tarif di antaranya melalui pemberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau mendorong kebijakan label berbahasa Indonesia, sehingga barang impor tidak mudah masuk ke pasar domestik. Tanpa non tariff barrier, industri malah jadi susah tumbuh. Orang lebih senang mengimpor lalu menjualnya di sini. Jika pemerintah mau mengarahkan berdirinya industri dalam negeri, pemerintah seharusnya menerapkan hambatan non tarif. Dengan penetapan non tariff barrier ini impor barang elektronika bisa ditekan karena lebih sulit dan di sisi lain mendorong pertumbuhan investasi di dalam negeri, ujarnya, hari ini. Melonjak 50% Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, impor elektronika selama Januari-November mengalami lonjakan signifikan sebesar 50% menjadi US$3,66 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, impor hanya sebesar US$2,15 miliar. Lonjakan itu wajar karena kita tidak memproduksi beberapa jenis barang elektronika tertentu, kata Ali. Dilihat dari negara pemasok barang impor, China merupakan negara eksportir barang elektronik terbesar yang masuk ke pasar dalam negeri selama Januari-November dengan total nilai impor sebesar US$1,131 miliar atau menguasai pangsa pasar hingga 35%. Dari segi pelabuhan masuk, impor barang elektronika yang masuk ke pasar domestik terbesar melalui Bandara Soekarno Hatta dengan persentase 67% dari nilai impor yang masuk selama Januari-November. Adapun dari segi jenis barang, telepon untuk jaringan seluler dan laptop merupakan dua produk yang mencatat nilai impor terbanyak selama Januari-November dengan persentase masing-masing 58% dan 26%. Nilai impor ini, menurut Ali, berpotensi naik terus pada bulan-bulan yang akan datang seiring dengan perkiraan pertumbuhan konsumsi terhadap berbagai produk elektronika. Produk consumer electronic sendiri diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar 15% pada tahun depan. Dia memerkirakan saat ini produk electronic consumer impor menguasai 70% dari pasar elektronik di Tanah Air, sementara sisanya adalah produksi dalam negeri. Jadi produk domestik sendiri masih kecil sekali tetapi itu hanya untuk electronic consumer saja. Ali menambahkan tingginya konsumsi produk elektronik secara umum juga dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah produk elektronika selain faktor gaya hidup. Harga banyak yang turun seperti laptop. Sekarang banyak laptop murah, apalagi sekarang ini orang sedang tertarik denganinternet sehingga permintaan pun makin kuat, jelasnya. (msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top