Harga bahan baku dan kemasan hadang industri makanan minuman

manda | 20 Desember 2010 10:10 WIB

JAKARTA : Sektor makanan dan minuman di dalam negeri pada tahun depan menghadapi tantangan harga bahan baku dan kemasan yang diprediksi terus terkerek naik, seiring kecenderungan harga komoditas pangan dan minyak mentah dunia yang menguat.

Kenaikan harga bahan baku dan kemasan ini dipastikan akan memengaruhi harga produk jadi yakni adanya kenaikan sekitar 10%-15% pada 2011.

Tahun 2011 tantangan pada bahan baku terigu, gula, jagung dan kedelai dan lainnya yang potensi kenaikan harganya signifikan. Sekarang poin yang paling besar untuk makanan minuman itu adalah bahan baku komoditi naik, dan kemasan. Kemasan ini dipicu harga minyak bumi, kata Franky Sibarani, Sekjen Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), hari ini.

Dicontohkan oleh Franky, ketika harga kedelai naik hingga 40% pada 2008, setidaknya beberapa perusahaan di sektor mamin telah gulung tikar. Pada kuartal I/2010, harga terigu, gula dan susu telah mengalami kenaikan. Khusus untuk terigu, naik sekitar Rp100-Rp125 per kemasan.

Kendati menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku dan kemasaran, Franky menuturkan omzet dan konsumsi di sektor mamin tetap akan meningkat. Industri mamin dalam negeri diyakini masih bisa mengisi pasar domestik dan kontribusi produk impor sekitar 5%.

Terkait adanya pasokan listrik sebesar 1.600 megawatt (MW) yang diberikan oleh PT PLN (Pesero) bagi sektor industri, menurut Franky, hal ini juga harus diimbangi dengan jaminan pasokan gas.

Kendala mamin yang lain adalah gas yang menghambat ekspansi, dan kebijakan terkait bahan baku misalnya tarif bea masuk yang masih banyak diatas 5%, sementara produk jadinya 0%- 5%. Untuk gas ini kelihatannya belum ada titik temu," tutur Franky.

Dikonfirmasi terpisah, Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengatakan kenaikan harga sebagian bahan baku itu sifatnya musiman, alias tidak permanen. Hidayat lebih mengkhawatirkan lonjakan harga kapas di tingkat global, yang akan berdampak pada sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Yang saya khawatirkan kapas, karena menyangkut situasi global. Indonesia tidak bisa produksi sendiri. Saya akan sikapi ini dengan membahasnya di rapat kabinet karena akan menekan daya saing, katanya.

Kendati dihadapkan pada permasalahan kenaikan harga bahan baku di sejumlah sektor, Hidayat optimistis target pertumbuhan industri manufaktur pada tahun depan mampu mencapai 6%.

Lebih lanjut, Franky memprediksikan pertumbuhan industri mamin pada tahun ini masih di bawah 5% dan akan mencapai 6% pada 2011. Dia menegaskan pada tahun depan, akan ada harapan baik untuk industri consumer good.

Sekarang ini tinggal bagaimana peran pemerintah dalam mendukung dan tidak menganggu ini sendiri. Pemerintah diharapkan melakukan tugasnya misalnya memperbaiki infrastruktur, tukasnya.

Menurut Franky, sekitar 99% industri mamin skala rumah tangga dan kecil saat ini masih bertumbuh kurang menggembirakan. Kondisi ini dipicu oleh dua faktor yakni tantangan impor dan bahan baku.

//Investasi//

Lebih lanjut, Franky mengungkapkan total investasi dari sektor mamin dan tembakau optimis mencapai Rp38,87 triliun pada tahun depan. Kontribusi sektor mamin dinilai lebih besar ketimbang tembakau dari angka investasi tersebut.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan industri mamin dan tembakau membutuhkan investasi setidaknya Rp38,87 triliun pada tahun depan, dengan pertumbuhan dipatok 7,92%.

Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri Kemenperin Aryanto Sagala sebelumnya mengatakan, kebutuhan investasi hingga Rp38,87 triliun tersebut sesuai dengan rencana strategis Kemenperin sepanjang 2010-2014.

Sebagian besar investasi berasal dari sektor mamin, seiring kebijakan pemerintah menekan produksi rokok pada 2015, pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top