Stok barang kebutuhan pokok melimpah

JAKARTA: Persediaan barang kebutuhan pokok pada menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2011 cukup melimpah dengan pergerakan harga yang relatif kecil berkisar antara Rp500 hingga Rp5.000 per kg untuk komoditas tertentu.Mahmudah, konsumen Pasar Tradisional
Sekretariat Redaksi
Sekretariat Redaksi - Bisnis.com 20 Desember 2010  |  11:40 WIB

JAKARTA: Persediaan barang kebutuhan pokok pada menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2011 cukup melimpah dengan pergerakan harga yang relatif kecil berkisar antara Rp500 hingga Rp5.000 per kg untuk komoditas tertentu.Mahmudah, konsumen Pasar Tradisional Kebayoran Lama Jakarta Selatan mengatakan stok barang kebutuhan pokok memang cukup banyak yang terlihat dari tumpukan produk hasil pertanian itu di setiap kios yang ada di pasar."Persediaan barang terlihat cukup banyak, tetapi harganya sudah bergerak naik secara sedikit-demi sedikit sejak awal bulan ini hingga sekarang Rp500-Rp2.000 per kg, dan khusus cabe merah kriting naiknya cukup tinggi mencapai Rp10.000 per kg," katanya di Jakarta hari ini. Dia mengatakan minggu lalu harga cabe merah kriting sempat menembus Rp40.000 per kg dan sekarang ini turun menjadi Rp33.950 per kg atau hampir sama dengan posisi pertengahan Nopember 2010 sebesar Rp21.950 per kg.Menurut warga Cipulir, Kebayoran Lama Jakarta Selatan itu sekarang ini harga cabe kriting merah Rp33.950 per kg, cabe merah Rp30.950 per kg, bawang mereh Rp18.500 per kg, bawang putih Rp35.000 per kg, wortel Rp5.000 per kg, dan telur ayam ras Rp14.500 per kg. Semenara itu Mandikin, pedagang Pasar Induk Sayur dan Buang-buahan Kramat Jati Jakarta Timur mengatakan sampai sekarang ini stok barang kebutuhan pokok untuk Ibu Kota cukup melimpah karena dipasok dari sejumlah daerah produsen di pulau Jawa dan Sumatera."Sampai sekarang ini stok barang di Pasar Induk Kramat Jati cukup melimpah karena adanya jaminan pasokan dari berbagai daerah penghasil pertanian dan perkebunan yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera dengan harga yang relatif stabil," katanya. Menurut Havidz, Manajer Humas PD Pasar Jaya, pengelola 153 pasar tradisional di Jakarta, pihakhya terus menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah produsen untuk menjamin kelancaran pengiriman barang kebutuhan pokok dan sekaligus mengendalikan harganya."Sampai sekarang ini kami belum mendengar ada keluhan dari masyarakat terkait karena terjadi kelangkaan barang di pasar dan harganya melonjak tinggi sehingga memberatkan mereka. Sebab, kami selalu berkomunikasi dengan daerah produsen untuk menjamin kelancaran pengiriman." Sementara itu Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri Indonesia Satria Hamid Ahmadi mengatakan kenaikan omzet barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan telur mencapai sekitar 15% pada menjelang Natal dan Tahun Baru."Seperti pada menjelang hari raya Lebaran, omzet barang kebutuhan pokok juga naik pada menjelang Natal dan Tahun Baru, terutama untuk barang kebutuhan pokok mencapai sekitar 15%, dengan harga yang tetap setabil," katanya.Satria mengatakan biasanya pengusah ritel menyetok barang mencapai dua kali lipat dari hari biasa untuk mengantisipasi lonjakan permintaan konsumen pada menjelang hari besar keagamaan tersebut.Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia Jakarta Nellys Soekidi mengatakan kesigapan pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) menggelontorkan berasa impor melalui operasi pasar beras impor asal Vietnam sehingga harganya tetap stabil."Persediaan beras cukup melimpah dengan adanya beras impor asal Fietnam dengan kualitas sejenis IR-2 yang dijual di tingkat grosir Pasar Induk Beras Cipinang sebesar Rp5.850 per kg, yang bisa dijual di tingkat konsumen sekitar Rp6.200 per kg," katanya. Sementara itu Yusuf Noor, Asisten Manager Regional Tanah Abang PD Pasar Jaya, mengatakan suasana perdagangan tekstil dan produk tekstil di Pasar Tanah Abang menjelang Natal dan Tahun Baru 2011 tidak sesemarak dibandingkan dengan musim yang sama tahun lalu."Demikian juga permintaan dari pembeli di daerah yang diperkirakan turun tajam. Hal itu disebabkan kaerna banyak dibangun pusat perdagangan yang sejenis di daerah dan juga maraknya produk tekstil impor asal China di daerah tersebut," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top