55% Modal asing berbentuk investasi langsung

JAKARTA: Pemerintah menilai derasnya modal asing yang masuk ke Tanah Air belum mengkhawatirkan karena sebagian besar merupakan investasi langsung (foreign direct investment/FDI), yakni mencapai 55% dari total aliran modal.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 Desember 2010  |  12:37 WIB

JAKARTA: Pemerintah menilai derasnya modal asing yang masuk ke Tanah Air belum mengkhawatirkan karena sebagian besar merupakan investasi langsung (foreign direct investment/FDI), yakni mencapai 55% dari total aliran modal.

Agus Suprijanto, Pjs Kepala Badan Kebijakan Fiskal, mengungkapkan dalam dari data neraca pembayaran Indonesia terkini dapat terlihat bahwa modal asing yang beredar di Tanah Air lebih banyak dalam bentuk investasi langsung. Sementara yang masuk dalam bentuk investasi portofolio kurang hanya 45% dari total modal asing yang masuk."Sejauh ini masih aman karena kalau lihat balance of payment, 55% dari capital inflow itu berupa FDI, sedangkan 45% yang berupa portofolio. dan yang masuk ke pasar modal-pun, sebagian besar ke instrument-instrumen yang jangka panjang," ujar dia kepada Bisnis, hari ini. Kendati demikian, lanjut dia, capital inflow yang teramat deras tersebut patut diwaspadai. Langkah antisipasi untuk menjaga agar tidak terjadi pembalikan modal, maka perlu insentif ke investasi-investasi langsung agar terjadi peralihan modal ke sektor-sektor usaha yang produktif. Bank Indonesia melihat pertumbuhan ekspor serta aliran modal masuk, baik dalam bentuk penanaman modal asing (PMA) maupun investasi portfolio, masih cukup kuat sehingga membawa dampak pada peningkatan surplus neraca pembayaran Indonesia. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa sampai dengan akhir November 2010 tercatat sebesar US$92,76 miliar atau setara dengan 6,96 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.Sementara, Agustinus Prasetyantoko, Ekonom Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyrakat (LPPM) Unika Atmajaya, menuturkan dengan diperpanjangnya jangka waktu Sertifikat Bank Indonesia (SBI), maka derasnya modal asing yang masuk ke dalam negeri akan beralih ke Surat Utang Negara (SUN). Karenanya, jika tidak diimbangi dengan penyerapan anggaran negara yang baik, maka capital inflow tersebut berpotensi menjadi beban ekonomi ke depannya. "Pemerintah hanya akan menanggung beban bunga. Tanpa bisa mendorong pembiayaan tersebut untuk pertumbuhan ekonomi," ujar dia.Bank Indonesia mencatat kepemilikan SBI oleh asing per November turun 20,41% dibandingkan bulan sebelumnya, dari Rp72,64 triliun menjadi Rp57,81 triliun. Penurunan tersebut disinyalir akibat kebijakan bank sentral memperpanjang tenor SBI. Trennya terus berlanjut yakni selama pekan pertama Desember modal asing di SBI turun Rp4,18 triliun, dari 28,8% menjadi 26%. Di sisi lain, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan mencatat kenaikan kepemilikan surat berharga negara (SBN) oleh asing, dari Rp191,2 triliun pada Nvember menjadi Rp19,76 triliun per 9 Desember. Sementara total penerbitan obligasi negara sampai 9 Desember sebesar Rp642,45 triliun, ditambah hasil penerbitan SUN terakhir sebesar Rp2 triliun pada 14 Desember. Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo mengatakan belanja pemerintah bukanlah sumber utama dari pertumbuhan ekonomi. Namun, yang paling penting adalah bagaimana menyalurkan capital inflow agar masuk ke FDI, a.;. dengan mengundang lebih banyak perusahaan untuk go public. "Kalau saya bisa katakan sekarang ini capital inflow itu besar dan kita perlu mewaspadai. Tetapi kalau kita lihat cadangan devisa kita yang US$90 miliar lebih, itu kita punya kondisi kekuatan yang cukup baik. Selain cadangan devisa yang baik itu, kami juga mempunyai mekanisme crisis financial protocol yang bisa mendeteksi bahaya itu lebih dini," katanya.Selain itu, Agus menambahkan pemerintah meyakini kekuatan ekonomi Indonesia masih cukup terjaga yang terlihat dari kesehatan fiskal dan moneter. Berdasarkan semua itu, pemerintah berkeyakinan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini menembus 6%, lebih optimistis dibandingkan proyeksi Bank Dunia yang hanya 5,9%. "Secara umum semua unsur-unsur yang bisa membuat pertumbuhan, apakah itu konsumsi rumah tangga, apakah itu investasi, apakah itu goverment spending, itu kan menunjukan kondisi yang cukup baik. Tetapi kami masih harus mewaspadai seperti inflasi, tetapi secara umum pertumbuhan pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa 6%, dan tahun depan bisa 6,4%," paparnya. (bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top