Organda usulkan revitalisasi angkutan darat

JAKARTA: Pengusaha angkutan darat segera mengusulkan konsep revitalisasi angkutan umum darat kepada pemerintah dalam rangka mendorong meningkatkan kinerja sektor transportasi umum darat. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha Angkutan Bermotor
Tisyrin Naufalty Tsani
Tisyrin Naufalty Tsani - Bisnis.com 17 Desember 2010  |  09:17 WIB

JAKARTA: Pengusaha angkutan darat segera mengusulkan konsep revitalisasi angkutan umum darat kepada pemerintah dalam rangka mendorong meningkatkan kinerja sektor transportasi umum darat. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha Angkutan Bermotor di Jalan (DPP Organda) Eka Sari Lorena Soerbakti mengatakan organisasinya akan mengusulkan konsep revitalisasi itu sesegera mungkin.

Menurut dia, konsep revitalisasi ini disiapkan supaya ada kepastian bahwa program meningkatkan kinerja sektor transportasi darat sangat mendesak. Ya, akan kami sampaikan ke Kemenhub, katanya kepada Bisnis sore ini.

Dia menjelaskan kegiatan revitalisasi transportasi umum darat ini harus dilakukan bukan semata-mata karena sektor ini semakin ditinggalkan pengguna jasa, tetapi untuk meningkatkan kontribusi sektor ini terhadap pembangunan bangsa.

Eka Sari menambahkan situasi angkutan umum darat pada hari biasa atau tidak sama karena kini operator semakin sulit bersaing dengan moda transportasi lainnya seperti kereta api (KA) dan angkutan udara yang menawarkan harga tiket rendah.

Belum lagi persaingan antaroperator yang semakin ketat karena pengaturan izin trayek yang tumpang-tindih, tambahnya.

Revitalisasi sektor usaha transportasi darat secara nasional sangat bergantung kepada komitmen pemerintah terutama dalam pengaturan tarif dan komponen lainnya menjadi lebih objektif berdasarkan pertimbangan bisnis, bukan politik.

Sebab revitalisasi sektor ini memerlukan dukungan perbaikan kondisi infrastruktur baik jalan maupun jembatan yang sekarang banyak yang rusak, meninjau ulang regulasi yang tumpang tindih termasuk perizinan trayek, serta penghapusan biaya ekonomi tinggi. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top