Proyek migas US$1,15 miliar tertunda

JAKARTA: Beberapa proyek hulu minyak dan gas bumi senilai US$1,15 miliar tertunda pelaksanaannya dari rencana tahun ini karena beberapa masalah, terutama belum tuntasnya evaluasi terhadap proyek-proyek tersebut.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Desember 2010  |  01:26 WIB

JAKARTA: Beberapa proyek hulu minyak dan gas bumi senilai US$1,15 miliar tertunda pelaksanaannya dari rencana tahun ini karena beberapa masalah, terutama belum tuntasnya evaluasi terhadap proyek-proyek tersebut.

Wakil Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Hardiono mengungkapkan realisasi pelaksanaan proyek merupakan salah satu faktor penting bagi sektor hulu migas dalam mencapai target-target yang ditetapkan. Realisasi berbagai proyek senilai miliaran dolar tersebut juga memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian nasional melalui pemanfaatan barang dan jasa lokal, termasuk di dalamnya pemanfaatan jasa perbankan nasional.

Namun, dia mengakui hingga November tahun ini hampir dipastikan terdapat beberapa proyek besar yang mengalami penundaan pelaksanaan. Nilai proyek yang tertunda tersebut mencapai sekitar US$1,15 miliar.

Ini target BP Migas untuk bisa mengarahkan kegiatan pengadaan menggunakan jasa perbankan nasional menjadi tidak tercapai karena memang beberapa proyeknya tertunda, ungkapnya kepada Bisnis kemarin petang.

Hingga Agustus 2010, BP Migas mencatat total transaksi pengadaan barang dan jasa hulu migas yang melalui perbankan nasional secara kumulatif mencapai sekitar US$8,5 miliar. Pemanfaatan jasa perbankan nasional tersebut diperkenalkan sejak April 2009.

BP Migas menargetkan kegiatan pengadaan barang dan jasa hulu migas melalui perbankan nasional bisa mencapai 70% dari total belanja pengadaan tahun ini. Nilai pengadaan barang dan jasa nasional biasanya sekitar 70% dari total biaya cost recovery.

Hingga Oktober, nilai cost recovery telah mencapai sebesar US$7,7 miliar. Dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan 2010 tercatat nilai cost recovery hingga akhir tahun dipatok pada level US$12,19 miliar.

Lebih lanjut Hardiono mengungkapkan dari total nilai proyek yang tertunda itu, rencana pengadaan dua kapal di Belanak dan Belida oleh ConocoPhilips merupakan yang terbesar, yaitu sekitar US$500 juta. Menurut dia, tertundanya pelaksanaan proyek kedua kapal itu tidak lepas dari kegagalan pelaksanaan tender yang sudah dilakukan sebanyak dua kali.

Pengadaan kapal Belanak dan Belida sudah dua kali tender juga gagal lagi sehingga mengalami penundaan. Dua kapal itu kan nilainya sekitar US$500 juta, tuturnya.

Selain itu, urainya, penundaan juga terjadi pada rencana pelaksanaan pengadaan, rancang bangun, manajemen, dan konstruksti terpadu atau PEMEC oleh Chevron Pacific Indonesia senilai US$500 juta. PEMEC merupakan upaya penyatuan pengendalian seluruh kegiatan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) melalui pelaksana tunggal proyek untuk memudahkan dalam melakukan pengawasan.

Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) selaku auditor internal, tutur Hardiono, tidak menyetujui rencana program itu. BPKP, katanya, menghendaki proyek tersebut dipecah untuk setiap kegiatan dengan masing-masing pelaksana untuk menghindari adanya temuan.

Ini karena dulu BPKP pernah ada temuan dari program semacam ini di CPI juga. Pemenangnya kan Tripatra dan mitra, ternyata dalam pelaksanaan ada satu kegiatan yang tarifnya diubah lebih tinggi tanpa persetujuan BP Migas sehingga sampai ada PLK atau perubahan lingkup kerja, katanya.

Selain itu, dia mengatakan proyek lain yang bermasalah adalah belum selesainya evaluasi terhadap rencana proyek pengembangan Area Gundih milik PT Pertamina EP. Nilai proyek Gundih, katanya, mencapai sekitar US$125 juta yang seharusnya juga bisa dilaksanakan tahun ini.

Targetnya tahun ini, tetapi karena evaluasinya belum selesai sepertinya tidak bisa.

Adapun, sambungnya, proyek yang telah disetujui namun belum direalisasikan adalah beberapa kegiatan di proyek pengembangan Indonesia Deepwater Development (IDD) yang dioperatori Chevron Indonesia Company. Hardiono mengatakan nilai proyek IDD yang belum direalisasikan mencapai sekitar US$25 juta.

Beberapa proyek IDD memang belum direalisasikan. Nilainya masih kecil karena belum semuanya, dan itu sebenarnya sudah disetujui dan komitmennya sudah tercatat di BP Migas, ungkapnya. (mrp)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top