Sinar Mas genjot ekspor kertas ke Korsel

Hilman Hidayat | 15 Desember 2010 09:05 WIB

JAKARTA: Sinar Mas Group akan kembali menggenjot ekspor kertas ke Korea Selatan hingga US$100 juta, menyusul semakin terbukanya peluang ekspor ke negara itu setelah pencabutan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD).

Managing Director Sinar Mas Group Gandhi Sulistyanto mengatakan nilai ekspor kertas Sinar Mas Group ke Korea sebelum dikenai BMAD mencapai US$100 juta. Namun, sejak kasus dumping yang dituduhkan oritas Korea pada 2002, ekspor kertas ke negara itu turun hingga US$40 juta.

Penurunan nilai ekspor kertas ke negara itu juga memengaruhi pangsa pasar Sinar Mas di Korea Selatan. Pangsa pasar kertas Sinar Mas yang dulunya menguasai 20%-25% di negara itu turun drastis hingga hanya 9%.

Dengan pencabutan BMAD atas produk kertas Sinar Ma situ, tentunya peluang ekspor kami akan semakin terbuka lebar. Kami menargetkan ekspor ke negara itu kembali ke nilai sebelumnya atau bahkan bisa lebih tinggi dari angka itu, ujar Gandhi kepada Bisnis, Kamis.

Seperti diketahui, Korean Trade Commission (KTC) resmi mengakhiri pengenaan BMAD terhadap produk kertas berupa uncoated writing and printing paper dari Indonesia sejak Oktober lalu. Selain Indonesia, KTC juga menghentikan pengenaan BMAD terhadap produk China.

Penghentian pengenaan BMAD ini dilakukan setelah investigasi selama 10 bulan oleh otoritas anti dumping di negara itu.

Perusahaan Indonesia yang dikenakan tuduhan dumping adalah PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT Pindo Deli Pulp & Mills, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, dan April Pine Paper Trading Pte Ltd.

Gandhi menambahkan meski telah mengalami kehilangan pangsa pasar yang cukup besar ke negara itu, produk Indonesia tetap masih bisa bersaing baik dengan produk domestik maupun dengan produk impor.

Oleh karena itu, kami optimistis bisa mengembalikan lagi nilai ekspor dan pangsa pasar yang hilang selama dikenakan BMAD, ungkapnya.

Sementara itu, terkait dengan kasus subsidi kertas oleh Amerika Serikat, Gandhi mengakui pihaknya terus melakukan pembicaraan dengan otoritas di negara itu. Pasalnya pengenaan bea masuk imbalan atas produk kertas Indonesia ke negara itu dinilai sangat memberatkan.

Menurut Gandhi , pihaknya akan meminta pemerintah melakukan pendekatan ke Organisasi Perdagangan Dunia untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Sudah pasti memukul kinerja ekspor kami. Oleh karena itu, kami minta pemerintah membantu melalui jalur WTO, ungkapnya.

Kasus tersebut bermula dari petisi yang diajukan oleh industri kertas dalam negeri yakni Appleton Coated LLC, New Page Corporation, Sappi Fine Paper, dan sejumlah serikat pekerja The United Steelworkers of America kepada US Department of Commerce (US-DOC) dan US International Trade Commission (US-ITC). Selain Indonesia, petisi juga dilayangkan kepada RRC.

Ada dua perusahaan Indonesia yang dituduh terkait kasus ini yakni PT Pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk dan PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills-dua eksportir kertas anak usaha Sinar Mas Group-.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup