Industri furnitur rotan menanti keberpihakan pemerintah

Keterpurukan ini, pemerintah ikut bertanggung jawab dan berdosa karena pemerintah hampir tidak melakukan langkah konkrit untuk membangkitkan industri, terbukti masih mengekspor bahan baku [rotan], tutur Hatta Sinatra, pemilik PT Indosurya Mahakam, salah
manda | 15 Desember 2010 10:45 WIB

Keterpurukan ini, pemerintah ikut bertanggung jawab dan berdosa karena pemerintah hampir tidak melakukan langkah konkrit untuk membangkitkan industri, terbukti masih mengekspor bahan baku [rotan], tutur Hatta Sinatra, pemilik PT Indosurya Mahakam, salah satu produsen furnitur rotan terbesar di Indonesia, di Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini.Ditemui di workshop rotan miliknya, Hatta yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) dengan antusias menuturkan kisah getir yang kini dihadapi para pengrajin, produsen dan juga ekportir furnitur rotan di Cirebon. Dikenal sebagai sentra mebel dan furnitur rotan, Cirebon setidaknya menjadi barometer perkembangan industri produk jadi rotan yang kini tengah sekarat.

Di Cirebon, jumlah perusahaan yang masih bisa eksis hanya tersisa 17%. Tahun ini saya perkirakan akan semakin menurun dan jumlah perusahaan yang gulung tikar dan berada dalam stadium 4 akan membengkak, kata yang mengaku menghabiskan 4 bulan hidupnya berkelana di luar negeri untuk observasi pasar sekaligus berupaya memulihkan citra industri furnitur rotan Indonesia.

Dari total 516 perusahaan, sebanyak 220 (43%) perusahaan yang bergerak di sektor pengolahan rotan di Cirebon telah gulung tikar. Sementara itu, 208 perusahaan (40%) berada dalam kondisi stadium 4 atau sekarat, sisanya 88 perusahaan (17%) masuk kategori berjuang untuk mempertahankan eksistensinya.

Penurunan produksi, ekspor maupun penyerapan tenaga kerja di industri furnitur rotan yang terjadi sejak 2005 ini terus berlanjut sampai sekarang. Dalam kunjungan saya di tiga lokasi workshop furniture rotan di Cirebon, kegiatan produksi di pabrik terlihat menurun. Pada Sabtu, pabrik terlihat lengang, karyawan diliburkan demi efisiensi biaya.

Kondisi ini tentunya tidak terlepas dari pangsa pasar ekspor yang merosot, minimnya apresiasi dari konsumen di dalam negeri terhadap produk furnitur rotan, dan sejumlah hambatan yang membelit sektor ini, termasuk dampak pasar bebas Asean-China.

Dulu ketika pasar ekspor furnitur masih bagus, pabrik ini tetap beroperasi meskipun Sabtu. Tetapi sekarang, bisa dilihat sendiri, karyawan libur, kata Satori, Direktur PT Yamakawa Rattan Industry yang menggarap pasar ekspor, mayoritas ke Jepang.

Tak jauh berbeda dengan Satori. Kurtz Schutz, pemilik PT Aida Ratta Industry, produsen furnitur rotan asal Jerman yang merelokasi pabrik ke Indonesia ini , juga mengeluhkan persaingan produk furnitur rotan Indonesia dengan China. Selain itu, Kurtz mengaku tidak habis pikir dan tidak tahu mengapa orang Indonesia kurang mengapresiasi produk mebel rotan yang notabene adalah produk hasil industri Indonesia. Ini berbeda sekali dengan masyarakat Eropa yang sangat menggemari furnitur rotan dan menilai produk tersebut sebagai produk yang eksotis, bernilai seni dan nyaman.

Saya punya satu gerai di Alun-Alun Indonesia di Jakarta, tetapi penjualan kurang memuaskan. Pangsa pasar di dalam negeri masih minim sekali. Padahal masyarakat yang komitmen untuk menjaga lingkungan dan go green, ya sebaiknya membeli produk furnitur rotan, tutur Kurtz.

Kondisi ini, diakui oleh Hatta, sangat disayangkan dan cukup memprihatinkan, mengingat sektor pengolahan rotan sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia karena menyerap banyak tenaga kerja (padat karya).

Sepanjang periode 2001-2004, baik jumlah perusahaan, produksi, ekspor hingga penyerapan tenaga kerja di sub sektor pengolahan rotan di Cirebon mengalami peningkatan. Jumlah perusahaan naik dari 923 unit menjadi 1.060 unit. Produksi melejit dari 62.707 ton menjadi 91.181 ton, ekspor menguat dari US$101,67 juta menjadi US$116,572 juta dan menyerap 61.140 orang tenaga kerja. Tapi saat ini semua angka-angka tersebut kian menyusut.

Penurunan kinerja sektor ini, disinyalir karena masih adanya ekspor bahan baku rotan dan rotan setengah jadi, dan mengalirnya bahan baku rotan ke luar negeri secara illegal. Ketentuan mengenai ekspor rotan ini dituangkan dalam Permendag No.36/2009.

Di sisi lain, industri pengolahan rotan di negara-negara pesaing, terutama China dan Vietnam berkembang pesat, sehingga merebut pangsa pasar dan potensi ekspor produk rotan nasional. Di pasar furnitur di Amerika Serikat (AS) misalnya, Indonesia saat ini kalah dibandingkan dengan Vietnam dalam merebut pangsa pasar negara tersebut.

Pangsa pasar Vietnam diatas Indonesia. Ini sangat memalukan, tegas Hatta.

Sekretaris Jenderal AMKRI Abdul Sobur mengatakan meski Permendag menetapkan jenis rotan yang bisa diekspor, tetap terjadi penyelewengan karena yang diekspor tetap saja rotan-rotan yang dibutuhkan di dalam negeri.

Sunoto, pengrajin rotan Cirebon dengan bendera PT Erlangga BNH menegaskan sebuah kekeliruan yang besar dilakukan pemerintah dengan membuka ekspor bahan baku rotan ke luar negeri, termasuk ke China. Pemerintah dinilai tidak memandang rotan sebagai komoditas strategis yang memiliki nilai dominasi bagi negara ini di kancah internasional.

Indonesia pemilik 85%- 90% bahan baku rotan dunia, berarti kita punya dominasi value. Adalah sebuah kekeliruan yang besar, apabila presiden sekarang ini mengekspor bahan baku rotan. Dengan diekspornya b ahan baku rotan, ingat jangan salah paham, bukan kami ketakutan kekurangan bahan baku, tetapi bahan baku ini peluru kita, tapi malah diberikan ke orang lain. Akhirnya yang mengutilisasi adalah China, terangnya.

Sunoto yang mendapat julukan the lord of rattan ini menegaskan satu-satunya harapan yang dapat mengembalikan industri pengolahan rotan nasional dari keterpurukan adalah ditutupnya kebijakan ekspor bahan baku ke pasar dunia. Di sisi lain, pemerintah harus melakukan langkah promosi besar-besaran [kampanye] di tingkat global mengenai produk furnitur rotan Indonesia untuk merebut kembali pangsa pasar internasional.

Ketika ekspor rotan ditutup di jaman presiden Megawati, banyak perusahaan di luar negeri yang masuk ke Indonesia. Yang sangat disayangkan kebijakan pemerintah yang kembali membuka ekspor, sangat merugikan industri, tambah Satori.

Pada era Orde Baru, pemerintah mengatur sedemikian rupa tata niaga ekspor rotan. Rotan boleh diekspor, tetapi dikenakan pungutan ekspor (bea keluar) yang sangat tinggi. Namun, seiring dengan pergantian pemerintahan, kebijakan tata niaga rota pun terus berubah. DI era pemerintahan Presiden Habibie, ekspor rotan dibuka tanpa ada pungutan ekspor, dan berlanjut hingga di kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sejak zaman pemerintahan Megawati Soekamoputri, kebijakan rotan pun berubah lagi. Ekspor rotan ditutup.

Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengatakan pemenuhan suplai bahan baku rotan untuk kebutuhan dalam negeri merupakan prioritas. Untuk itu, Hidayat bertekad untuk memacu kembali kinerja industri pengolahan rotan dan berkomitmen untuk memperjuangkan evaluasi peraturan ekspor bahan baku tersebut.

Hatta menambahkan pemerintah dan badan usaha milik negara [BUMN] diharapkan menjadi pioneer dalam menggerakkan pasar di dalam negeri dengan membeli produk rotan.

Pemerintah harus memberi contoh, kalau semua instansi/kementerian/lembaga membeli produk dalam neger ini, tentu terjadi gelombang yang luar biasa. Keinginan kami agar rotan itu menjadi ikon dan tuan rumah di dalam negeri, tegasnya.

Untuk memulihkan kejayaan produk furnitur rotan Indonesia di kancah internasional, tukas Hatta, dibutuhkan dukungan dari pemerintah berupa fasilitasi pameran di luar negeri secara kontinu, setidaknya selama 5 tahun. Mulai Januari 2011, AMKRI didukung oleh Kementerian Perindustrian akan mengikuti lima pameran skala internasional di sejumlah negara, mulai dari Cologne (Jerman) hingga Shanghai (China).

Dengan mengekspor dalam bentuk bahan jadi atau furniture, Sunoto berharap aktivitas pabrik dan ekonomi yang digulirkan dari kegiatan menganyam rotan di Cirebon dan daerah lain dapat kembali hidup, tidak lagi sekarat seperti sekarang. Semoga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top