Pertamina siap rebut 80% pasar BBM nonsubsidi

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) menargetkan bisa merebut 80% dari total potensi permintaan bensin RON 92 dan RON 95 sebanyak 2.500 kiloliter per hari pascapemberlakuan kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi di Jabodetabek pada akhir kuartal I/2011.
News Editor | 15 Desember 2010 08:46 WIB

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) menargetkan bisa merebut 80% dari total potensi permintaan bensin RON 92 dan RON 95 sebanyak 2.500 kiloliter per hari pascapemberlakuan kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi di Jabodetabek pada akhir kuartal I/2011. Vice President Corporate Communication Pertamina M. Harun mengatakan saat ini perusahaan telah menguasai penjualan BBM nonsubsidi sebesar 2.500 kiloliter per hari. Volume tersebut diakui masih sangat rendah, yaitu hanya 3% dari total penjualan BBM transportasi perusahaan.

Dia mengatakan jika rencana kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi pada akhir kuartal I/2011 direalisasikan, untuk wilayah Jabodetabek saja akan ada potensi permintaan tambahan BBM non-PSO sebesar 2.500 kiloliter per hari. Dari volume itu, tuturnya, Pertamina memasang target realistis dengan mengupayakan merebut pasar sekitar 80%. Dari potensi permintaan yang mencapai 2.500 kiloliter per hari kemungkinan kita realistis untuk merebut sekitar 80% saja, ujarnya hari ini.

Harun mengatakan target tersebut disesuaikan dengan kemampuan infrastruktur yang dimiliki Pertamina dan juga tingkat persaingan yang akan terjadi. Menurut dia, badan usaha swasta tentu telah memiliki persiapan yang matang untuk bisa merebut sebanyak mungkin pasar BBM nonsubsidi, ketika kebijakan pembatasan dilakukan.

Kebijakan pembatasan tersebut sudah mereka tunggu-tunggu sejak lama dan kompetitor sudah buka suara akan menggarap peluang bisnis ini. Oleh karena itu, kami rasa penguasaan 80% dari potensi pasar baru ini sudah cukup realistis, paparnya.

Sementara itu, terkait dengan kesiapan produk dan juga infrastrukturnya, Harun menegaskan untuk penyediaan BBK perusahaan tidak akan mengalami kendala berarti karena diproyeksikan tingkat konsumsi masih berada di bawah total produksi BBK perusahaan di Balongan yang berkapasitas 110.000 bph atau sekitar 17.500 kiloliter per hari.

Namun, dia mengakui kendala yang harus segera di atasi adalah mengenai kesiapan infrastruktur ritel dari kalangan pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Fokus kita justru masalah infrastruktur ritel ini karena ini harus dilakukan serentak dan kami tidak mau misalnya hanya yang sudah siap saja yang memasarkan BBK. Kalau mereka tidak siap, ya pasar akan diisi oleh pemasok lainnya.

Saat ini terdapat sekitar 720 unit SPBU berlogo Pertamina di seluruh Jabodetabek. Dari jumlah itu, 530 unit sudah menjual bensin RON 92 dan RON 95, sedangkan 149 unit akan dikonversi untuk siap menjual bahan bakar khusus tersebut dan 21 unit perlu penambahan tangki pendam. (aph)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top