'Pariwisata harus wujudkan badan promosi'

JAKARTA: Kalangan industri pariwisata harus bersatu dan berinisiatif untuk mewujudkan terbentuknya Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Ria Indhryani | 14 Desember 2010 10:08 WIB

JAKARTA: Kalangan industri pariwisata harus bersatu dan berinisiatif untuk mewujudkan terbentuknya Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

"Tahun depan Indonesia menjadi Ketua Asean sehingga banyak pertemuan di tingkat kawasan. Momentum ini seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk sektor wisata," kata Haryadi Sukamdani, Presdir PT Sahid Internasional Hotel Management & Consultant (PT SIHMC), hari ini.Berbicara di sela-sela syukuran HUT Bisnis Indonesia ke-25, Haryadi mengatakan prospek pariwisata Indonesia tahun depan cerah, tetapi lemah dalam hal kordinasi antara swasta dan swasta, swasta engan pemerintah, terutama pemerintah daerah. "Saya harapkan organisasi seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) bisa memimpin inisiatif, menggalang industri pariwisata lainnya untuk membentuk semacam badan promosi mengingat Kemenbudpar sejauh ini belum membentuknya sesuai amanat Undang-Undang Nomor 10/2009 tentang Kepariwisataan," kata Haryadi.Menurut Haryadi, BPPI seharusnya sudah terbentuk pada akhir tahun ini sehingga pada saat Indonesia menjadi Ketua Asean mampu memanfaatkan momentum strategis ini untuk kepentingan nasional, kemajuan kawasan dan evolusi tatanan regional , Asia Timur hingga Pasifik serta perjalanan ASEAN menuju Komunitas Asean pada 2015."Kami maklumi kelemahan pemerintah tetapi swasta sebaiknya tidak bersikap menunggu. Jadi harus proaktif melakukan promosi bersama sehingga pengembangan pariwisata Indonesia ke depan bisa terarah dan punya blue print," kata Haryadi, yang juga Wakil Ketua Umum DPP PHRI bidang Investasi, Perizinan dan Pengembangan Usaha.Sebagai praktisi perhotelan, pihaknya tahun depan mentargetkan pertumbuhan sales jaringan hotel Sahid terutama okupansi kamar hotel mencapai 25%. Haryadi optimistis dengan menjadi Ketua Asean berarti Indonesia harus siap untuk menyelenggarakan kurang lebih 200 pertemuan Asean dalam setahun."Kegiatan meeting, incentive, conference & exhibition (MICE) akan marak dan perhotelan akan disibukkan dengan pertemuan-pertemuan. Indonesia otomatis jadi tuan rumah dua KTT Asean, serangkaian pertemuan tingkat menteri, tingkat pejabat tinggi, tingkat pejabat teknis dan lainnya," ungkap Haryadi.SIHMC yang dipimpinnya mempunyai optimisme kuat dalam pengembangan pariwisata di Tanah Air. Sahid yang memiliki 18 unit jaringan hotel akan menambah 10 unit hingga 2013. "Jadi kami sebagai bagian dari industri pariwisata inginnya pemerintah segera menjalankan amanah UU Kepariwisataan tersebut membentuk BPPI," kata Haryadi.Menbudpar perlu segera mengusulkan nama-nama kepada Presiden untuk dibuatkan Keppres. Karena UU ini ditetapkan Januari 2009, maka waktu yang tersisa hingga Januari 2011, katanya. Hal ini penting karena pariwisata memainkan tempat sangat strategis dalam meningkatkan citra bangsa di luar negeri dan meningkatkan perdagangan dan investasi. "Pariwisata perlu terobosan baru, industri pariwisata harus bersatu dan menjadi leader. Meski mengerti dengan birokrasi pemerintahan tetapi kelamaan kalau menunggu action dari Kemenbudpar. Kami harapkan Febuari 2011 PHRI sudah bisa menggerakkan peran swasta," kata Haryadi.(mfm)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top