Beban subsidi BBM terancam membengkak hingga Rp7 triliun

JAKARTA: Pemerintah memperhitungkan beban anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) berpotensi membengkak hingga Rp7 triliun pada 2011 jika kebijakan pembatasan batal diterapkan.
Yanto Rachmat Iskandar
Yanto Rachmat Iskandar - Bisnis.com 13 Desember 2010  |  11:38 WIB

JAKARTA: Pemerintah memperhitungkan beban anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) berpotensi membengkak hingga Rp7 triliun pada 2011 jika kebijakan pembatasan batal diterapkan.

Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo menuturkan semangat pembatasan penggunaan BBM bersubsidi adalah menjaga agar realisasi volumenya tidak melampaui kuota 38,5 juta kilo liter. Untuk itu, dialokasikan anggaran untuk subsidi BBM sebesar Rp95,9 triliun dalam APBN 2011.Kalau seandainya kami bisa mencapai pengendalian, kami bisa jaga (kuota) 38,5 juta kilo liter, kalau tidak itu akan lebih dari 38,5 juta kilo liter, bisa sampai 42 juta kilo liter. Itu mungkin kira-kira kombinasi subsidi premium dan solar ada tambahan Rp7 triliun, ujar dia dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, hari ini.Menurut dia, setiap tahun pemerintah mengaloakasikan anggaran subsidi sekitar Rp200 triliun atau 20% dari pendapatan negara yang berkisar Rp100 triliun. Sementara 34% dari pendapatan negara tersebut biasanya langsung ditransfer ke daerah, 10-15% buat bayar bunga utang, dan 20-30% untuk belanja pegawai dan barang.Sehingga sisanya sedikit sekali yang kita istilahkan belanja tidak terikat yang biasanya digunakan kalau ada apa-apa, seperti gempa, musibah, atau masalah sosial yang mau kita lakukan atau kita ingin bangun infrastruktur, papar dia.Untuk itu, Menkeu berharap dukungan dari DPR untuk bisa mengelola kebijakan subsidi secara lebih berkeadilan. Namun, dia menegaskan pemerintah sama sekali tidak ada niat untuk menjadikan kenaikan harga BBM bersubsidi sebagai solusi. Kami tak ada niat naikkan harga BBM. (mrp)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top