Swasta di Aceh perlu perhatian

News Editor | 13 Desember 2010 08:58 WIB

BANDA ACEH: Sektor swasta dinilai perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemprov Nanggroe Aceh Darussalam guna meningkatkan iklim usaha di Aceh mengingat masih adanya tantangan dalam bisnis dan investasi di provinsi tersebut

Hal itu mencuat dalam seri diskusi ekonomi yang diselengarakan oleh Aceh Recovery Forum (ARF), hari ini.

Diskusi yang difasilitasi oleh USAID SERASI tersebut dihadiri oleh para pengusaha Aceh, unsur dunia usaha, akademisi dan juga Konsulat Jenderal Amerika Serikat.

Yusny Saby yang mewakili ARF mengatakan diskusi tersebut sebagai cara untuk mencari jalan apa yang sebenarnya kendala dan masalah yang menghambat berkembangnya investasi di Aceh.

Forum diskusi mencoba rumuskan dan rangkum, kemudian kita rekomendasikan ke pemerintah nantinya, ujarnya.

Banyak kendala dan hal yang disampaikan oleh peserta diskusi. Misalnya yang disampaikan Fauzi, mewakili perkumpulan pengusaha Aceh Sepakat di Medan.

Menurutnya, kurangnya tenaga kerja di Aceh membuat investasi sulit, selain tentunya masalah keamanan, Tunjukkan Aceh kondusif untuk investasi, orang akan datang, ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Irfan, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatra Utara. Menurutnya, silaturrahmi antara pejabat dan pengusaha harus dikuatkan untuk menumbuhkan dunia usaha dan investasi di Aceh. Dia mencontohkan Sumatra Utara, yang mampu membangun jaringan komunikasi yang baik dalam hal tersebut.

Tenaga kerja juga persoalan lain, sangat sulit mencari tenaga kerja yang handal di Aceh. Saya dulu punya kebun di Aceh Barat, tetapi tak bisa tanam karena tidak ada tenaga kerja. Saya akhirnya menjualnya dan pindah ke Riau, contohnya.

Sementara itu, Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Medan, Stanley Harsha menilai Aceh saat ini lebih kondusif dari banyak provinsi di Indonesia. Jalan masih bagus dan pelabuhannya juga, kemudian pendikan juga tidak kalah dengan tempat lain, tuturnya.

Menurutnya, perlu kerja keras semua pihak untuk terus menarik investor ke Aceh. Dia mengakui Aceh masih kekurangan masuknya, termasuk dari pengusaha dari Amerika Serikat. Seperti konferensi ekonomi [Aceh International Business Summit] yang kemarin di Aceh, sedikit mendapat perhatian dari pengusaha AS, ujarnya.

Islahuddin, fasilitator diskusi, mengatakan beberapa rekomendasi kendala bisnis dan investasi di Aceh yang masih terjadi antara lain; masalah birokrasi kelembagaan, seperti sulitnya perizinan, kemudian juga masalah listrik yang masih sangat tergantung kepada Sumatra Utara.

Kemudian masih diperkukan pelabuhan laut untuk ekspor, perbaikan infrastruktur, serta perlunya revitalisasi perkebunan di Aceh denga konsep yang jelas.

Silaturrahmi para pengusaha dan pejabat menjadi hal yang penting untuk membangun kekerabatan dan mencari solusi terhadap kendala-kendala, ujarnya.

Menurutnya, semua orang sepakat bahwa Aceh berpeluang besar untuk menumbuhkan sektor bisnis dan investasi. Kekayaan alam yang sangat mendukung menjadi faktor utama, apalagi keamanan di Aceh sudah semakin kondusif. Kendala-kendala yang terjadi perlu dikomunikasikan terus menerus untuk memajukan ekonomi Aceh yang tidak tergantung lagi pada daerah lain.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top