Daya saing produk mebel lemah

JAKARTA : Daya saing produk mebel dan kerajinan di pasar domestik maupun ekspor sangat lemah terutama terhadap produk China menyusul mahalnya bahan baku dan biaya distribusi yang tinggi.
Basilius Triharyanto
Basilius Triharyanto - Bisnis.com 13 Desember 2010  |  11:46 WIB

JAKARTA : Daya saing produk mebel dan kerajinan di pasar domestik maupun ekspor sangat lemah terutama terhadap produk China menyusul mahalnya bahan baku dan biaya distribusi yang tinggi.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Rudy T. Luwia mengatakan penjualan produk mebel dan kerajinan secara keseluruhan mengalami tekanan pada tahun ini terutama sulit bersaing dari sisi harga dengan produk serupa asal China dan Vietnam.

Faktor utama yang membuat harga tidak bisa bersaing dipengaruhi oleh mahalnya bahan baku kayu yang membuat perajin di daerah kesulitan meningkatkan volume produksi karena penjualan produknya tidak bisa kompetitif.

Kinerja mebel dan kerajinan keseluruhan masih tertekan, karena pasarnya tidak baik menjelang akhir tahun yang membuat kegiatan menurun," ujarnya hari ini

Tekanan itu, lanjut Rudy, karena dari harga tidak bisa bersaing dengan produk asal China dan Vietnam baik di pasar domestik maupun ekspor.

Menurut dia, mahal bahan baku karena biaya distribusi yang terlampaui tinggi akibat buruknya infrastruktur jalan, terutama untuk bahan baku kayu yang mayoritas didatangkan dari pelosok dan luar jawa.

Selain itu, perajin mebel dan kerajinan juga menanggung beban biaya logistik sangat tinggi yang membuat pembentukan haga akhir dari produknya menjadi tidak kompetitif dibandingkan produk serupa yang ternyata telah membanjiri di pasar.

Kondisi itu membuat daya saing produk mebel menjadi lemah, karena komponen biaya yang harus dikeluarkan mulai dari bahan baku yang mahal ditambah biaya produksi dan logistik hingga produknya tidak bisa kompetitif.

Rudy menambahkan pertumbuhan kinerja ekspor Asmindo pada akhir tahun ini diperkirakan trennya menurun menjadi sekitar 20% menjadi US$2,8 miliar, padahal pada pertengahan tahun sempat tumbuh mencapai 28%.

Di sisi lain, peluang untuk menggenjot penjualan di pasar domestik juga semakin kecil karena produk mebel asal China sudah membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang jauh lebih murah.

"Sulit kalau kondisinya sepertinya ini, seharusnya pemerintah kalau mau bantu tinggal lakukan saja, bagaimana agar bahan baku lebih terjangkau serta biaya distribusi dan logistik bisa murah. Sayangnya upaya memperbaiki sangat lamban dibandingkan negara lain." (ra)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top