API berharap RI tak lewatkan momentum investasi tekstil

JAKARTA: Ketidakharmonisan dan kurang profesionalnya aparat pelayanan publik bisa membuat Indonesia kembali kehilangan momentum pergeseran pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil di Tanah Air dan mengancam daya saing industri tekstil dan produk
News Editor
News Editor - Bisnis.com 13 Desember 2010  |  04:51 WIB

JAKARTA: Ketidakharmonisan dan kurang profesionalnya aparat pelayanan publik bisa membuat Indonesia kembali kehilangan momentum pergeseran pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil di Tanah Air dan mengancam daya saing industri tekstil dan produk tekstil nasional.

Kehilangan momentum tersebut bisa berdampak pada tertundanya kembali cita-cita Indonesia untuk menjadi negara yang siap tinggal landas dengan pertumbuhan ekonomi tinggi.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan Indonesia telah kehilangan momentum ketika gagal menjadi pusat pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil dunia ketika industri serupa di Korea Selatan mulai jenuh. Krisis ekonomi para di Indonesia kala itu, katanya, adalah faktor yang menjadikan China yang masih berstatus sebagai negara miskin kala itu sebagai pilihan.

Industri tekstil biasanya menjadi titik awal bagi kemajuan industri suatu negara. Ketika industri tekstil masuk setelah Korea Selatan mengalami kejenuhan karena upah terlalu tinggi, sebenarnya Indonesia sempat menjadi pilihan sebelum terjadi krisis dan menghilangkan momentum tersebut, katanya kepada Bisnis hari ini.

Ade mengatakan dengan tingkat upah yang masih US$100 per bulan, kini Indonesia kembali mendapatkan momentum emas untuk menjadi tempat bergesernya industri pada karya tersebut. Beberapa perusahaan tekstil dan produk tekstil, termasuk yang berasal dari China kini berniat menginvestasikan dananya ke Indonesia.

Ini tidak boleh disia-siakan lagi. Jika tidak, India, Bangladesh, dan Pakistan menjadi ancaman untuk menggantikan posisi yang sebenarnya bisa dicapai Indonesia, katanya.

Untuk itu, lanjutnya, para pemangku kepentingan, terutama yang terkait dengan pelayanan publik dituntut untuk memperbaiki kinerjanya, lebih harmonis dan profesional. Dia mencontohkan bea cukai yang menjadi pintu gerbang masuknya barang modal dan bahan baku ke Tanah Air tidak mempersulit proses yang justru akan menghambat kinerja industri.

Seluruh stakeholder yang terkait dengan pelayanan publik, seperti Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, BKPM, dan Kementerian Perindustrian harus harmonis dan profesional. Jangan sampai, misalnya, bea cukai mempersulit barang-barang impor yang sedianya akan diproses di dalam negeri dan direekspor. Itu akan menghambat pertumbuhan industri, selain kenaikan tariff dasar listrik, ungkapnya.

Bahkan, dia mengatakan berbelitnya pemeriksaan barang impor di bea cukai bisa menghambat pertumbuhan industri yang semula diproyeksi bisa tumbuh 15% terancam kendor menjadi hanya 5%. Kalau lancar mungkin bisa 15% pertumbuhannya. Tetapi kalau malah justru dipersulit, pertumbuhan bisa hanya sekitar 5% saja.

Industri tekstil dan produk tekstil nasional kini memiliki pasar sekitar US$16,5 miliar yang terdiri dari pasar domestik US$10,5 miliar dan sekitar US$6 miliar pasar ekspor. Nilai tersebut baru sekitar 2,75% dari total nilai pasar industri secara global yang mencapai US$600 miliar dengan pertumbuhan rata-rata 3% per tahun.

Untuk memperkuat industri tekstil dan produk tekstil di Tanah Air, sambung Ade, Indonesia akan memperkuat pasokan bahan baku, terutama serat sintetis yang bisa diproduksi di dalam negeri. Melalui kegiatan ekspansi dua industri besarnya, PT South Pacific Viscose and PT Indo-Bharat Rayon, Indonesia berpeluang menjadi produsen utama serat sintetis di tengah semakin menipisnya persediaan kapas atau serat alam global.

Kalau ekspansi mereka lancar, 2014 kita akan menjadi yang terbesar di kawasan. Tinggal pemerintah sediakan infrastruktur yang dibutuhkan bagi ekspansi mereka. Ini penting karena kapas mulai berkurang sehingga ada kemungkinan serat rayon menjadi andalan berikutnya, katanya. (msw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top