Impor produk tertentu melonjak 35%

JAKARTA: Impor lima produk tertentu (elektronika, pakaian jadi, mainan anak-anak, makanan dan minuman, serta alas kaki) selama Januari-November mengalami lonjakan hampir 35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan terbesar dikontribusi
Hilman Hidayat
Hilman Hidayat - Bisnis.com 13 Desember 2010  |  10:05 WIB

JAKARTA: Impor lima produk tertentu (elektronika, pakaian jadi, mainan anak-anak, makanan dan minuman, serta alas kaki) selama Januari-November mengalami lonjakan hampir 35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan terbesar dikontribusi oleh produk alas kaki yang mencatat kenaikan 69%.

Berdasarkan data yang diperoleh Bisnis, nilai impor lima produk tertentu sepanjang Januari-November mencapai US$3,36 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, impor kelima produk tersebut hanya sebesar US$2,45 miliar.

Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Deddy Saleh mengungkapkan kenaikan nilai impor produk tersebut mencerminkan kenaikan permintaan terhadap produk-produk konsumsi itu. Kalau meningkat, jelas itu berarti ada peningkatan permintaan dari dalam negeri, ujarnya kepada Bisnis, hari ini.

Selain karena meningkatnya permintaan, lanjut Deddy, peningkatan nilai impor itu mencerminkan semakin terdatanya produk impor dari yang tadinya ilegal menjadi legal sehingga tidak mengalami hambatan di pasaran dalam negeri.

Itu [dari ilegal menjadi legal] bisa saja terjadi, sehingga nilai impornya meningkat. Jadi peningkatan impor ini tidak harus dimaknai negatif, justru sebaliknya mencerminkan dampak positif dari Permendag 56, jelas Deddy.

Data menunjukkan kenaikan nilai impor tertinggi terjadi pada alas kaki sebesar 69% disusul elektronika, mainan anak-anak, pakaian jadi, serta makanan dan minuman. Kendati mengalami kenaikan nilai impor terbesar, peran produk alas kaki terhadap total nilai impor hanya sebesar 3%.

Kontribusi nilai impor terbesar terjadi pada produk elektronika. Impor produk elektronika selama Januari-November mencapai US$3,21 miliar atau mengalami kenaikan 49% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dominasi China

Dilihat dari sumber barang, China merajai nilai impor terbesar hampir di seluruh produk, kecuali produk makanan dan minuman.

Total impor dari China mencapai US$1,26 miliar atau menguasai pangsa pasar sebesar 37,5% dari total nilai impor produk tertentu selama Januari-November.

Data menunjukkan impor produk elektronika dari China mencapai US$1,13 miliar dengan penguasaan pangsa pasar mencapai 35%, untuk produk pakaian jadi mencapai US$40,1 juta (35%), mainan anak-anak sebesar US$37,3 juta(69%), dan impor alas kaki mencapai US$55,8 juta (567%).

Khusus untuk produk makanan dan minuman, nilai impor terbesar masih didominasi oleh Malaysia yang nilai impornya mencapai US$33,3 juta atau menguasai pangsa pasar sebesar 18%. Adapun China berada di posisi kedua dengan nilai impor sebesar US$27,7 juta (15%).

Ketua Gabungan Elektronik (Gabel) Ali Soebroto Oentaryo mengungkapkan khusus untuk produk elektronik mengalami lonjakan nilai impor yang cukup signifikan selama November. Data menunjukkan impor produk elektronika pada November mencapai US$194 juta. Adapun pada Oktober, impor elektronika hanya sebesar US$135juta.

Kenaikan nilai impor tersebut, menurut Ali, didominasi oleh telepon genggam dan laptop yang pangsa pasarnya masing-masing mencapai 58% dan 26% dari total impor elektronika yang masuk ke pasaran dalam negeri.

Seperti biasa dari bulan ke bulan,impor produk elektronika didominasi oleh telepon genggam dan laptop. Peningkatan itu sejalan dengan permintaan yang tinggi atas dua produk itu, katanya.

Ali menambahkan lonjakan produk impor elektronik ke pasar dalam negeri sejauh ini belum memukul industri dalam negeri. Pasalnya, produk elektronika yang beredar di pasaran dalam negeri memang masih didominasi oleh produk impor.

Ketergantungan kita memang tinggi, karena memang kita tidak memproduksi beberapa produk elektronika itu. Kita masih impor sebagian besar produk elektronika jadi wajar saja kalau impor kita tinggi, katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top