'TPT jangan dikasih penurunan bea masuk'

JAKARTA: Kendati belum memasuki tahapan perundingan kerja sama Indonesia-India Comprehensive Economic Cooperation Agreement (IICECA), pelaku usaha pertekstilan meminta agar sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) tidak dimasukkan dalam daftar produk
Adi Ginanjar Maulana | 10 Desember 2010 09:32 WIB

JAKARTA: Kendati belum memasuki tahapan perundingan kerja sama Indonesia-India Comprehensive Economic Cooperation Agreement (IICECA), pelaku usaha pertekstilan meminta agar sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) tidak dimasukkan dalam daftar produk yang mendapatkan fasilitas penurunan bea masuk.Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G. Ismy mengatakan sektor TPT Indonesia belum sepenuhnya siap bersaing dengan India yang dikenal memiliki keunggulan kuat dalam perdagangan di sektor tersebut.Dia menjabarkan perkembangan neraca perdagangan sektor TPT Indonesia dengan India selalu mencatat defisit sejak 2007 hingga 2009. Kendati defisit nilai perdagangan di sektor TPT kian mengecil, dia menilai Indonesia belum siap bersaing. Pada 2007, total nilai ekspor sektor TPT sebesar US$72,6 juta, sedangkan impor mencapai US$99,1 juta, sehingga mencatat defisit sebesar US$26,4 juta.Defisit semakin melebar pada 2008 sebesar US$119,2 juta, lantaranm ekspor hanya mencapai US$90,4 juta, sedangkan impor US$209,6 juta. Adapun pada 2009, defisit mengecil menjadi US$6,06 juta, di mana ekspor tercatat sebesar US$91,8 juta dan impor tercatat sebesar US$97,9 juta. Jadi kami minta exclude. Posisi kita selalu minus, kata dia, hari ini. Seperti diketahui, kesepakatan pembentukan kerja sama tersebut sudah dilakukan sejak Oktober 2005 oleh kepala negara masing-masing negara. Menyusul kesepakatan pembentukan kerja sama tersebut, kedua negara telah melakukan studi kelayakan dengan membentuk joint study group pada 2009.(msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top